Sabtu, 24 Desember 2011

Pada Malam Natal Aku Melihat Santa Clause


Pada malam natal
aku melihat santa clause
Ia keluar dari mesin percetakan dalam jumlah ribuan eksemplar
Wajahnya terpampang manis tanpa kumis
menawarkan produk alat cukur

Di lain hari kutemukan ia berjemur di aspal
Menyebar flayer-flayer bergambar menu natal
Aih, betapa perutnya yang buncit
cermin citarasa tiada tara

Kadang ia menjelma sepasang gupala
Parasnya ajaib mirip manekin
Menyapa langkah yang lalu
di depan pintu toko baju

Ho…ho...ho….
Santa Claus Santa Claus
Tawa berguguran  di pilar atrium
seperti salju dan lollipop   
Ribuan tubuh bermata keledai
menyepuh lowerground
Mereka penuhi  troli dengan mimpi kanak-kanak
dan pundi di perut Santa

Ho…ho...ho...
Santa Claus Santa Claus
Di pamflet tawanya menyergap mata
Baliho mengisi ruang-ruang tempurung kepala

Hey,
Aku melihat santa claus malang
terperangkap di ranting cemara
Itukah sebabnya
 Ia biarkan kosong
Kaus kaki yang kugantung
di hatiku?!

Senin, 19 Desember 2011


Tentang Pelangi Kecilku

Aku membaca senja yang hilang di matamu
Siapa sembunyikan tarian tujuh rupa bidadari?

Sekeping mozaik diasingkan waktu
Pelangi kecilku meniup tujuh cahaya lilin
Itulah tonggak habisnya segala pelita jiwa
Adalah sekedar dalih darah yang mengaliri nadi
Sebab hulunya telah ditanam benci
Dua pasang mata dulu singgah dalam bahtera
Pelangi kecilku bertanya:
Apakah detak yang mereka cipta bagian dari prosesi
dan bukan pernyataan cinta?

Masih lekat semalam ibunda berbisik
mantera manis bungabunga mimpi
Selalu
Ia latah di akhir kisah
“Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya”

Rupanya dinding mulai jemu mengendapkan  kebohongan
Dinihari retak menyemburkan lukaluka karatan
Angin sibuk merekam makian
Embun saling bentur berdenting
jatuh di kelopak yang terpejam ketakutan

Pelangi kecilku menepi di sudut rumah kematiannya
demi tak ingin lagi melihat kasih sayang
demi tak mau dengar ketukan ayah ibu pulang
Katanya:
Pagi ini aku terbangun dan kudapati jejak kaki
mengarah pada dua belantara berbeda
Aku adalah anak yang lahir dari tekateki
dan akan tetap tumbuh bersamanya!

Kekasih
Aku tiba di depan pintu yang kau pagari
Sungguh
Takkan kutinggalkan engkau hanya karena itu
Sebab nestapa telah tersemat layaknya cincin di jari manis kita

( 19 September 2009)

Dunia Bisu





Untuk pertama kalinya jiwaku luluh lantak oleh sebuah sorot mata tajam. Ia seperti pelangi, membawa serta peri- peri dalam rengkuh candikala. Dan aku dicurinya, dibawanya menari sepanjang senja. Ia memelukku dengan cahaya warna warni  Dunia bisu, tapi kami mengerti. Jernih tatapnya bicara cinta. Lebih gamblang dari seribu kata yang menggetarkan dibanding sejuta rayuan.

Dunia bisu,
Aku mengerti ia mengerti
Matanya bicara resah
Melihat tatapku gelisah

Detak jantungku menyempitkan waktu. Parade pelangi memang akan berakhir. Berganti selimut petang yang sempurna. Tapi kami masih menari. Diiringi tetabuhan pilu dan tangis bercampur gerimis tipis. Tersisa hanya biasmu, dunia masih bisu. Aku melepasmu dengan caraku, dengan sorot mata tajam itu. Tepat purnama ketujuh, aku setia menghadirkanmu, dalam malamku, dalam doa-doaku. Aku lumpuh, aku sakit. Bukan karna hujan yang mengguyurku sejak kemarin. Bukan karna angin dingin yang mencengkeramku hingga aku mati menggigil.Karnamu.

Angin dan debu berbisik kata rindu untuk kota kecil itu
Sepi dan aku sendiri
Meski kau lihat di bawah sana
Hingar bingar karnaval wajah rupawan
Beserta iring- iringan kendaraan hias berlapis emas
Dari atap gedung tua ini, aku tak bergeming
Masih setia menanti pelangi

(Mei 2009)

Wanita dengan Buah Kweni di Punggungnya


Sekali lagi matahari harus bertekuk lutut,
menyerah kalah,
seperti pagipagi sebelumnya

Dunia masih lelap dalam buaian
mimpi yang tak juga kesampaian
Matahari terpejam
Udara terpejam
Hati terpejam
Bulan hampir terpejam

Akuilah wahai surya
Wanita itu lebih perkasa
dipaksanya pagi membelalakkan mata
Mencakar lereng bukit
menyeruak, menyisiri semak tebu
menelusuri akar jati hingga ke bawah
kakikaki telanjang
mencium mesra tanah berbatu
Burung kecil adalah orkes sepanjang jalan
Senandung kehidupan dan perjuangan
Dicumbu pagi buta,
merekalah penguasa saat kau masih terlena

Dan ketika kau terlambat menyadari geliat kehidupan
Bergegas Menggeregah Berbenah
membentangkan selendang warna emas dari balik bukit
Kau cipratcipratkan pada daun, embun
pada bungabunga tebu
pada tenggok di punggungnya yang harum buah kweni
Sesungguhnya mereka telah siap mengajakmu berlari
Dan akhirnya akuilah sekali lagi
wahai matahari
wanita itu jauh lebih perkasa memeluk pagi

(Yogya, 2009)

Sabtu, 17 Desember 2011

Sehari 'Jadi Tentara'

Dengan alasan sepi, tak ada teman, bingung mau ngapain, beberapa sudah pulang menikmati libur kuliah di jogja, maka kami, penghuni kontrakan yang masih tersisa memutuskan untuk menikmati weekend dengan berjalan-jalan di seputaran bandung. Tujuan pertama kami (awalnya), adalah mengunjungi pameran craft yang terletak di jalan aceh no 15. eh, oleh angkot kami diturunkan di jl aceh no 50..sekian. Terpaksa kami harus jalan kaki di siang yang terik. parahnya, kami belum pernah melewati jalan itu sebelumnya. Tak lama kami melintas di kawasan markas TNI. Setelah aksi sikut menyikut, seorang temanpun memberanikan diri untuk bertanya jalan pada seorang tentara yang sedang berjaga. Petunjuk arah telah kami kantongi. Bukannya melanjutkan perjalanan, perhatian kami justru tertuju pada deretan tank besar yang terpajang di halaman. Kata pak tentara, di tempat itu memang sedang diselenggarakan pameran kendaraan dan alat perang milik TNI-AD. Tanpa menunggu lebih lama, kami berkeliling, menaiki satu persatu kendaraan, mencoba-coba senjata yang tentu saja nggak ada pelurunya, dan yang terpenting mengabadikannya lewat foto untuk dipasang di profil FB. Melihat pameran itu, pikiranku segera berubah. Ternyata tentara itu nggak seseram yang kubayangkan. Mereka sangat ramah, bahkan tak sungkan menawarkan diri untuk menfoto kami. Nggak cuma sekali jepret, berkali-kali.! Sampai memory full dan baterai low (yang ini lebay ah!). Lucu deh, tentara yang biasa pegang senjata, skrg pegang kamera. Satu hal lagi yang menarik dan tak terlupakan, kami diberi kesempatan menaiki tank, diarak keliling jalan raya. Rasanya seperti miss universe, duduk di atas sambil melambaikan tangan, semua mata memandang... ya, meski aku tau, yang mereka pandang tentu saja tanknya, bukan aku. Tapi tak apalah, itu tadi pengalaman pertama seumur hidupku.

 

Rabu, 14 Desember 2011

Dago


Berkunjung ke Dago membuatku teringat pada Vendenbrug di Yogyakarta, kota kelahiranku.Tempat ini adalah tempat nongkrong dan berkumpulnya berbagai komunitas di Bandung. Kalo ingin mengetahui perkembangan fashion terbaru, tempat ini patut dijadikan acuan. Melihat orang lalu-lalang, sepertinya sulit membedakan mana yang artis,yang mirip dan yang bukan artis. Mereka berani mengekspresikan diri lewat dandanan dan pakaian yang dikenakan.Mungkin karena telah menjadi pemandangan sehari-hari, yang melihatpun tidak merasa itu sebagai hal aneh dan berlebihan.
Awalnya aku heran, kenapa Simpang Dago begitu ramai dikunjungi.Obyek yang paling menonjol di tempat ini hanya deretan huruf bertuliskan D-A-G-O warna merah, selebihnya berupa taman yang tak begitu luas. Taman yang terdesak oleh gedung-gedung dan kesemrawutan jalan raya.
Beberapa kali aku telah mengunjungi tempat ini. Melewatkan akhir pekan, melepas senja, menikmati jajanan khas Bandung, juga menyaksikan beragam aktivitas masyarakat, aku mulai memaklumi hal ini sebagai bagian dari kehidupan urban. Seorang teman mengatakan, di perkotaan seperti ini memang sulit mencari spasi hijau dan lahan yang luas. Akhirnya taman seperti di Dago lah yang menjadi rujukan bagi mereka yang ingin melepas penat, sekaligus ajang bersosialisasi setelah satu minggu larut pada kesibukan masing-masing.

Senin, 12 Desember 2011

Workshop Desain Produksi dan Strategi Pemasaran Marchendice Band

       Dua hari kemarin (10-11 Desember 2011), aku dan kawan2 mengikuti sebuah workshop di Common Room. Pembicaranya kebanyakan dari Iluminator, sebuah komunitas pekerja gambar untuk band2 Underground. Metal, Underground! Sesuatu yang nggak aku banget. Dan bener, hari pertama aja kami harus membuat sketsa,dan harus zombi! Zombi yang seram dan berdarah-darah itu! Semula, aku yang cuma ngikut teman n nggak tau apa2, sempat merasa bukan tempatku berada di situ. Tapi untunglah cuma sebentar, karena selebihnya sangat menyenangkan. Banyak ilmu baru yang kudapat. Aku jadi tahu bagaimana cara mendesain kaos mulai dari tahap ide, sket, inking, n painting, menyablon hingga bagaimana memasarkannya. Nggak nyesel deh apalagi dapat kaos gratis. hehe..


Dari kanan: Hasil sketsa Totok Ardyanto, Ario Murti, Andhi Ayu, Isyka Syukriya

Sketku: Meski zombie tetep 'unyu' kan

Kaos yang kami dapat dari hasil workshop

 
Suasana Workshop

Minggu, 11 Desember 2011

Tugas Fotografi

Satu semester rasanya kurang cukup untuk mempelajari fotografi, but ini dia beberapa hasilnya






Bungaku

Latihan pertamaku pake pen tablet(hasil minjem pula). Mulai tertarik nih sama gaya2 ilustrasi anak yang spontan, naif dan colourfull.

Pengelana Laut

Purnama ganjil setia mematut sepi
sekali waktu menyatu debur perahumu
Airmataku adalah samudra yang tengah kau arungi
Menepilah ke dermaga,
sebelum karam keangkuhanmu

2010

Rindu Betutu

Sinar matahari tajam menembus celah jendela. Meski begitu aku masih enggan meninggalkan selimut. Entah kenapa, rasanya mataku ini sulit sekali dibuka. Beberapa waktu lalu, Gusti telah berusaha membangunkanku, tapi agaknya ia menyerah. Kini, aku tak lagi mendengar suara berisik dari kamar sebelah. Kurasa ia telah memutuskan berangkat sendiri ke pura, tanpa aku.
Beberapa hari ini, kami memang disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk menyambut Nyepi. Salah satunya mempersiapkan ogoh-ogoh, sebuah boneka raksasa berwajah menyeramkan yang merupakan lambang dari sifat buruk manusia. Pada upacara Pangrupukan nanti, tepatnya sehari sebelum Nyepi, kami akan mengaraknya. Setelah itu ogoh-ogoh akan dibakar, sebagai pertanda dimusnahkannya kekuatan jahat.
Dahulu, ritual semacam ini sangat kunantikan sepanjang tahun. Namun semenjak aku merantau ke Yogya, semuanya jadi terasa hambar. Di sini, nuansa Nyepi tak sekental ketika di Bali. Mungkin itulah yang membuatku tak begitu antusias menyambutnya.
Sebenarnya aku ingin sekali pulang. Hari-hari berlalu begitu saja di Yogya, dan aku mulai jenuh. Ah, padahal inilah yang dulu sangat kuimpikan. Menjelajah kota penuh sejarah. Menjadi bagian dari universitas yang konon telah banyak mencetak orang-orang hebat di negeri ini. Aku masih ingat bagaimana akhirnya kedua orangtuaku merelakanku pergi ke Yogya. Kala itu tiada hari tanpa merayu. Kusuap ibuku dengan janji manis. Kuimingi-imingi bapakku dengan cerita tentang kesuksesan kawan-kawanku yang telah lebih dulu merantau ke Jawa, baik yang masih kuliah maupun bekerja.
Kini keinginanku itu terwujud. Lima tahun sudah aku berada di Yogya. Tahun-tahun pertama kulewati dengan penuh kegembiraan. Aku banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman baruku dan berbagai kegiatan kampus. Tahun berikutnya aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, namun aku masih menikmatinya. Menginjak semester lima, aku mulai kewalahan dengan tugas-tugasku yang membanjir tanpa henti. Semua bertumpuk di meja. Hampir tak ada jeda untukku bernafas. Menjelang semester akhir, aku benar-benar merasa jenuh. Banyak tugasku yang terbengkalai. Akupun jadi jarang masuk kuliah. Bahkan pernah sampai berbulan-bulan. Surat peringatan dari kampus beberapa kali kuterima, namun tak kuindahkan. Sampai akhirnya aku mendapat surat terakhir yang membuatku sangat terpukul. Aku di Drop out!
Berhari-hari aku memikirkannya. Aku sangat takut, tak sampai hati mengabarkan berita buruk ini pada orangtuaku. Apalagi wisuda tinggal sebentar lagi. Tentu mereka akan sangat kecewa jika tahu aku gagal menjadi sarjana. Akhirnya tercetuslah sebuah ide. Kebetulan sekali, ibu mengatakan lewat telepon bahwa ia tak dapat menghadiri acara wisuda. Ia harus menjaga ayah yang sedang opname di rumah sakit karena operasi usus buntu. Sedangkan adik-adikku masih sangat kecil, tak mungkin ditinggal sendiri.
Aku meyakinkan ibu, itu bukanlah masalah bagiku. Banyak juga teman-teman yang tidak didampingi keluarganya. Tapi aku berjanji akan mengirimkan foto-foto wisudaku nanti.
Aku menyesal telah mengatakannya. Tapi apa boleh buat. Aku terlanjur berbohong, terpaksa harus menutupnya dengan kebohongan lagi. Akupun meminta tolong seorang teman untuk memotretku dengan mengenakan toga yang sengaja kupinjam dari kawan. Aku juga memintanya untuk mengedit fotoku agar nampak seperti berada dalam suasana wisuda. Kukirimkan foto-foto itu, dengan bebagai pose, ke rumah. Begitu sampai, ayah dan ibu langsung menelpon. Tak ada nada curiga. Malahan mereka sangat gembira dan tak sabar menungguku pulang. Aku semakin merasa bersalah. Kukatakan, aku belum bisa pulang karena di sini aku telah mendapat pekerjaan.
Setahun telah berlalu sejak kejadian itu. Aku selalu mengelak tiap kali diminta pulang. Mereka tak boleh tau kenyataan bahwa aku telah di DO. Atau paling tidak, aku akan memberitahukannya, nanti, setelah aku sukses mendapat pekerjaan di sini. Dengan begitu, paling tidak ada sedikit penawar bagi orangtuaku yang kecewa karena aku gagal menyandang gelar sarjana. Sayangnya, mencari pekerjaan tak semudah yang aku bayangkan. Sampai sekarangpun aku belum juga memperoleh pekerjaan. Untunglah, ayah masih sering mengirimiku uang. Sehingga kebutuhanku sehari-hari masih dapat terpenuhi, meski seadanya, karena aku tak berani meminta.
*****
Menjelang sore, perasaanku semakin galau. Di saat teman-temanku, sesama perantau Bali sedang asyik menyiapkan ogoh-ogoh, seharian aku hanya terdiam di kamar, menyaksikan televisi. Berkali-kali kuganti chanel, tayangannya tetap seragam. Kebanyakan mengulas serba-serbi perayaan Nyepi di Bali yang jatuh seminggu lagi. Aku semakin rindu saja pada kampung halaman.
Di layar kaca, nampak seorang koki sedang mendemonstrasikan cara membuat ayam betutu. Tak terasa, liurku pun terbit. Berkali-kali kudorong menuju kerongkongan. Ayam betutu memang makanan favoritku ketika masih di Bali. Dulu ibu sering membuatkannya untukku. Hidangan itu tak pernah absen di meja makan,khususnya saat ada hari istimewa. Aku masih ingat, terakhir kali aku menyantapnya. Tepatnya setahun lalu, saat aku pulang. Ibu langsung menyambutku dengan sepiring ayam betutu besar spesial buatannya. Masih terbayang, lembutnya daging menari-nari di lidahku. Bumbu pedasnya sungguh tiada dua.
Namun semenjak tinggal di Yogya aku justru jarang memakan ayam betutu. Pernah dua kali, itupun Gusti yang mentraktirku. Bukannya tidak enak, namun rasanya memang jauh berbeda. Pokoknya tak ada yang senikmat betutu buatan ibuku.
Khusus hari ini aku tak peduli. Aku hanya ingin menyantapnya. Mungkin dengan begitu, rasa rinduku kepada Bali dan keluarga akan sedikit terobati.
Segera kuraih jaket yang tergantung di balik pintu. Kukeluarkan motorku dari garasi. Aku bergegas menuju rumah makan yang konon menjual ayam betutu terenak di Yogya. Namun baru separuh perjalanan, rintik hujan mulai menetes. Jalan yang kulalu perlahan basah. Begitu pula tubuhku. Beberapa pengendara motor di depanku memilih menepi. Kulihat ada pula yang telah sibuk mengenakan jas hujannya. Aku tetap melaju kencang. Tak terpikir di benakku untuk berteduh meski hujan semakin deras dan tempat yang kutuju masih cukup jauh.
Sayang, perjuanganku menembus hujan itu akhirnya berujung kekecewaan. Ayam betutu yang kuidam-idamkan hanya bisa kupandang dari baliho di depan rumah makan. Pintunya tertutup rapat. Padahal biasanya rumah makan itu ramai dikunjungi pembeli, kini nampak sepi. Aku diam sejenak sebelum akhirnya tersadar, tak ada gunanya aku berlama-lama disitu. Akupun memutuskan untuk membalikkan motorku. Pulang.
Sepanjang perjalanan pikiranku kacau. Keinginanku untuk menyantap ayam betutu tak tertahan. Aku tak tahu dimana lagi harus mencarinya. Lagipula tubuhku mulai menggigil kedinginan. Seandainya saja, aku ada di rumah. Tentu aku tak perlu susah payah begini demi mendapatkan ayam betutu. Dengan senang hati ibu akan membuatkannya untukku.
Aku tiba di kosku. Darahku berdesir naik. Aku mendapati pintu kamar tak terkunci. Apa jangan-jangan aku lupa menguncinya tadi? Ketakutan segera menyergapku. Kulirik kanan dan kiriku, sepi. Gusti yang kamarnya bersebelahan denganku belum juga pulang. Ia pasti masih sibuk di pura. Sementara tiga penghuni kos lain adalah angkatan baru, biasanya jam-jam ini mereka masih sibuk dengan kegiatan kampus. Itu artinya tak ada seorangpun menjaga kos ini saat aku pergi tadi. Apa mungkin ada pencuri masuk?
Dengan hati bimbang, kuberanikan diri membuka pintu kamar. Aku terkejut. Mataku langsung tertuju di sudut kamar. Lidahku tiba-tiba saja kelu.
“ Ibu?! “ kataku gugup.
Dengan tenang ibu berjalan mendekatiku. Rupanya tak hanya ibu yang datang, ayah dan dua adikku pun ikut serta. Adik-adikku yang masih kelas dua SD segera berlarian menghampiriku dan menarik-narik kemejaku, berebut minta perhatian. Sementara aku masih terpaku.
“Eee..., ke..kenapa tidak bilang dulu, Bu, kalau mau ke sini?” aku berusaha menyembunyikan rasa gugupku.
“Untuk apa? Pasti kamu akan banyak alasan, seperti ketika ibu menyuruhmu pulang.”
Aku terdiam.
“Sudahlah, ibu sudah tahu semua. Gusti yang menceritakannya pada kami.”
“Jadi.?!” pekikku tak percaya.
“Semua sudah terjadi. Percuma jika ibu marah. Tapi seharusnya kamu tidak perlu berbohong pada kami.”
“Maafkan aku, Bu, Ayah. Aku tak ingin membuat kalian kecewa.”
Ibu tersenyum, “Pulanglah. Kamu bisa bekerja membantu pamanmu. Ia sering menanyakan, kapan kamu bisa pulang. Setahun terakhir dia kebanjiran order membuat patung untuk dikirim ke luar negeri. Bukankah waktu kecil dulu kamu pernah bilang ingin menjadi pematung seperti pamanmu? Pulanglah, dia pasti akan senang sekali menerimamu.”kata ibu.
Aku terhenyak sesaat. Hampir tak percaya aku pernah mengatakan itu. Namun ingatanku segera meluncur ke masa ketika aku masih duduk di bangku kelas satu SD. Dulu setiap akhir pekan aku sering mengunjungi pamanku. Rumahnya di daerah Gianyar, tak jauh dari tempatku tinggal saat masih di Bali. Beliau adalah pengusaha patung. Aku sering mengamatinya ketika membuat patung. Begitu tertariknya, tak jarang aku berusaha ingin membantu namun selalu dicegah oleh kedua orangtuaku. Alasannya karena waktu itu aku masih terlalu kecil. Akupun berujar pada mereka, suatu saat nanti, aku akan jadi pematung seperti pamanku. Sayang, itu hanyalah cita-cita masa kecil, yang terkubur seiring bertambahnya usia.
Air mata mulai meleleh di pipiku. Kupikir ibu akan marah mengetahui keadaanku sekarang. Anehnya aku sama sekali tak menangkap raut kemarahan di wajahnya. Matanya tetap teduh. Tangannya lembut membelai pipiku, tanda ia masih menyayangiku. Begitupun ayah, ia memang tak banyak bicara, namun aku tahu dari senyumnya yang terkembang, ia memaafkanku. Sementara dua adikku, sejak tadi berebut duduk di pangkuanku. Kurasa mereka sangat rindu. Begitupun aku. Dulu kami sering bercanda seharian. Kini, hampir lima tahun kami kehilangan masa-masa itu.
“Sudah-sudah, sekarang kita nikmati dulu. Ini, ibu bawakan betutu kesukaanmu,” kata ibu mencoba memecah keharuan. Dikeluarkannya sebuah kotak makan besar berisi ayam betutu. Iapun segera menatanya di piring.
Aku tercengang. Segera kupeluk ibuku dengan erat. Kurasa ia kaget dengan perlakuanku, namun aku tak peduli. Ia memang selalu mengerti keinginanku.
“Maafkan aku, Bu,” kataku sekali lagi dengan penuh penyesalan.
Kamipun segera menyantap betutu itu bersama-sama. Aku begitu lahap. Dengan cepat nasi di piringku ludes tak tersisa. Kedua orangtuaku hanya mampu menggelengkan kepala. Dalam hati aku merasa haru, aku sangat menyesal selama ini telah berbohong dan mengecewakan mereka.
Seusai makan, aku bergegas mengemasi pakaianku. Aku tak sabar ingin pulang besok. Aku sangat bahagia. Akhirnya tahun ini aku dapat merayakan Nyepi di kampung halaman bersama keluarga tercinta.

Maret 2011

*****

Lanskap Yogya

Gedung-gedung berjejal congkak
Kotaku tak lagi punya ruang untuk sekedar
merebahkan punggung malam
yang mulai encok, memanggul sejarah

Anak-anak kehilangan candikala
Kehilangan petak sawah
tempat menembang lagu dolanan
menyibak tawa diantara kembang jagung
yang mekar

Lalu rembulan jatuh begitu saja di dasar sungai yang keruh
menenggelamkan rindu
tanpa sayup megatruh
sunyi kinanthi

Di sini
orang-orang berduyun dari segala penjuru
melahap euforia dengan rakus
merenggut paksa kesakralan tanah moyangnya

Sepasang beringin kembar
terasing
menepi dari arus waktu
Ke Nirbaya
mereka menyeret langkah
mengusung keranda

2010

Pada Suatu Hari di Kota Boneka

Perempuan itu tertatih,mendekap bayi merah
Mata lantang menatap kota tujuan
Meski tak sempat sembunyikan pasi wajah
Belum kering darah di antara dua betisnya
menggenangi jalan raya
Sayap-sayap kuyup tak sempat terpungut
malaikat terhenyak, lupa menutup mulut
mereka urung menyematkan doa di ubun-ubun jabang
petaka si bapa lebih dulu menyerang

Masih lekat lebam disekujur tubuh
Juga rahim istri yang remuk oleh murka
Mengapa harus lahir bayi-bayi perempuan
Yang hanya akan pandai bergincu
Sementara langit mulai doyong
Dan tangan yang semula kekar
Terlampau keriput menyangga langit

Dalam genggaman,
tangan mungil bocah ingusan
Di hati terbesit tanya, mau ke mana
Ini kota begitu asing
Terali di segala penjuru mata angin
Mengapa amat kelam
Rumah jembatan dan gedung berwarna ungu
Mengingatkannya pada lapar yang menggerus lambung sejak semalam
Orang lalulalang dengan punggung ditumbuhi gerigi mesin
seperti boneka
yang selama ini ia idamkan

Matahari memar
Di depan pertokoan perempuan berhenti berjalan
Tangannya tabah mengetuk satu pintu
Engkau musti belajar mengeja degup jantung
Aku menandai luka, yang akan menuntun bila kau rindu pulang
sebab tau bayi merah akan hilang,
ditelan riuh bibir merancau mimpi
maka ditancapkannya rusuk ke dalam hati
menanam ari-ari

tak lama
seorang keluar
melempar setumpuk uang

Bocah ingusan terbata
Tiba-tiba adik perempuannya
terpajang di etalase
seperti boneka
dengan tunas-tunas angka mengerikan tumbuh cepat
merayap dari balik punggung
dengan mata menyala

Perempuan segera membawa sulung pergi. pulang kepada nasib. Namun langkahnya kian tertatih. Baut mulai rontok dari kakinya. Jari-jari menjadi sebentuk kumparan kawat. Dadanya menjelma lempengan besi. dengan kabel berjuntai. mengeluarkan asap.

Ada pekik memecah kota
Kelopak bunga berguguran dari ceruk mata

April 2010

Plaosan

Angin kerontang memungut sepotong awan
Kepak burung hitam
tumbang menampar terik
Kaoknya parau
bagai sayatan sabit malaikat
Liang semut telah berabad lalu ditinggal penghuni
rengkah
di balik ilalang kering

Sepasang kaki menjejak
pusara sejarah tanpa kamboja
Lahat menganga
risau menunggu kematian
melenggang tanpa wujud

Di dinding batu yang gelap dan dingin
tangan gaib merangkai ceceran huruf berkabung
Amitbha Aksobya Vajrapani Manjusri
Diakah Bodhisattva yang bersimpuh
menahan perginya sang Budha?
Arca bergelimpangan tanpa kepala
Oh, pembantaian semalam menyisakan
anyir darah
dan desir kekosongan

Aku Pramudya Wardani
Putri Samaratungga!
Kutebar kuncup melati di atas jasadku
Agar semerbak lesap dalam kalbu kekasih
Ingatkah ketika kau letakkan gelora di pucuk-pucuk perwara?
Dua kerajaan langit bertikai
menghunus pedang ke jantung kita

Air mata telah mensucikan kenangan
Musykil sirna sekalipun pahatan kisah runtuh
bersetubuh puing ganjil

Kelelawar berhambur dengan tengkuk merinding
Suara gemuruh terpantul di lorong sunyi
“Plaosan, lambang cinta abadi!”

Dongeng buat Bunda

Baju itu ibu sulam benang asa
Jarum dibayar di muka
Hutang dianggap tiada
Disucikannya malam hari dengan air relung hati
Di kedalaman sumur doa bunda tetap terjaga

Biar Ma, baju itu kutulisi cerita
Akan kudongengkan pada anakku
Biar Ma, pabrik tekstil itu nanti aku yang punya
Kau mau berapa? Sejuta?
Kubuatkan baju yang sama
Tapi izinkan
Izinkan kukabarkan pada jalan-jalan
Agar mereka yang beku aturan turut merayakan kemenangan
Selusin tahun terpasung di balik bangku membosankan
saatnya lepas sangkar

Jalanan!
Lihat sebiji angka di jidatku bersinar-sinar
Walau kalau kau jeli akan nampak agak karatan
Cukup itu perlu kau tau, mohon lainnya dirahasiakan
Telah dimerdekakan kebodohan
(atau kemerdekaan yang dibodohkan?)
Kusandang predikat palsu,
aku masih musuh ilmu, buta aksara, moral juga
Seperti bangsa barbar
kita belajar cara menghidupi nafsu yang hampir tewas terkapar

Jalanan
Tempat meniti mimpi
namun ananda lupa
juga tempat menata nisan
Lupakan cita-cita menjadi penguasa berdasar hukum rimba
Sempatkah menolak? Pilihan kedua telah dijatuhkan
Ananda pulang ditutup kafan

Kembali dicuci baju anaknya di muara air mata
Namun tak juga hilang putih abu, biru, merah tua
Baju penuh noda luka-luka bunda

Tetap disimpannya dalam kotak mustika
Layaknya lembaran buku cerita
Berkisah sepanjang malam
sebagai pengantar tidur bunda
hingga akhir hayatnya

Juni 2009

Poster "Ini Bukan Robot"


Banyak orang mengganggap bahwa cerdas berarti harus pintar matematika, sains atau bahasa inggris. Untuk itulah anak dijejali kurikulum yang padat, diikutkan les ini itu, diberi banyak tugas yang tidak mereka sukai. Sampai-sampai mereka kehilangan waktu bermain. Akibatnya anak-anak itu menjadi tertekan dan tumbuh seperti robot, manusia tanpa hasrat, tidak punya kemauan untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
Padahal setiap anak memiliki keunikan dan bakat tersendiri. Tugas kita adalah menghargai serta membimbing mereka tanpa perlu memaksakan kehendak. Dengan begitu, anak dapat tumbuh menjadi sosok yang percaya diri, aktif, kreatif dan inovatif. Dan yang terpenting, mereka dapat menjadi diri sendiri.

Lucy

Rembulan berseri cerah. Tak ada awan menghalangi cahayanya untuk menembus jendela kamarku. Beberapa detik lagi, Juni akan tiba membawa musim kemaraunya. Sebelum itu, aku berharap ada angin datang, menyapu keringatku. Sayang,harapanku sia-sia. Sebenarnya bukan hanya udara panas yang membuatku tidak dapat terpejam. Pikiranku masih disibukkan oleh kejadian tadi siang, saat seorang perempuan datang ke rumah. Aku melihat ibu memeluknya dengan erat. Pelukan yang segera membuatku iri. Aku begitu mendambakan pelukan itu sejak kecil, namun tak pernah kudapatkan dari ibu hingga sekarang.
“Ini Lucy, kakakmu,” kata ibu saat mengenalkannya padaku.
Kakak? Ternyata aku punya kakak?!
Lucy bercerita, saat umurnya lima belas dan aku empat tahun, ia pergi dari rumah karena tak tahan mendengar pertengkaran kedua orangtua kami yang terus menerus. Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu ia mendengar kabar bahwa kedua orangtua kami resmi bercerai. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
Aku berusaha menginggat kenangan bersama Lucy saat masih kecil. Tak satupun terlintas di benakku. Tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Belakangan, aku sering melihatnya saat perjalanan ke sekolah. Aku juga pernah berpapasan dengannya di bus, saat akan pergi ke gereja. Ia seperti mengawasiku, membuat perasaanku gelisah.
*****
Meski saudara kandung, Lucy seperti orang asing. Sifat kami sangat bertolak belakang. Ia temprament dan keras kepala, sementara aku pendiam dan sangat penurut. Kami jarang bicara, mungkin ia tahu aku membencinya, begitupun sebaliknya. Sebenarnya aku iri. Dia bisa melakukan apapun yang ia mau. Sementara aku, memang dilahirkan sebagai pengecut. Aku tak berani ke luar rumah, kecuali ibu yang memerintah. Itu sebabnya aku tak punya banyak teman. Ibu melarangku bergaul karena menurutnya di luar sana banyak sekali orang jahat. Bergaul hanya akan memberi dampak buruk padaku.
Harusnya Lucy merasa beruntung, ibu lebih menyayanginya. Padahal ia tak pernah membersihkan rumah, memasak ataupun mencuci seperti yang kulakukan setiap hari. Harusnya ia bisa lebih menyayangi ibu dibanding aku. Tapi yang kulihat justru sebaliknya. Ia sering memulai pertengkaran dengan ibu, mempermasalahkan hal-hal sepele.
Setelah pertengkaran usai, ibu akan duduk menyendiri di ruang tengah dan menangis. Saat seperti itu aku ingin sekali menemaninya. Sayang, aku tak pernah punya cukup keberanian. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali mengintip dari balik tirai kamar sambil membayangkan aku bisa memeluk dan membiarkan airmatanya tumpah di bahuku.
*****
Sepulang sekolah, aku terkejut mendapati keadaan rumah yang berantakan. Kupikir ada perampok masuk, namun dugaanku salah. Tak ada satu pun barang berharga yang hilang kecuali beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding dan meja. Aku juga melihat serpihan kaca bertebaran di lantai. Yang paling mengejutkan, banyak foto ibu terserak. Semuanya dalam kondisi robek. Apakah Lucy dan ibu bertengkar lagi?
Di tengah kebingunganku, ibu datang dari pintu depan. Ia nampak sama terkejutnya denganku. Ia langsung memandangku tajam, seolah-olah menuduhku. Rasa menggigil tiba-tiba menjalari sekujur tubuhku.
“Bukan aku yang melakukannya,Bu,”
“Lalu siapa?! Cuma ada kamu!”
Aku terdiam. Ibu menghadiahiku sebuah pukulan karena aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Ia mengancam akan mengusirku dari rumah kalau aku tidak segera membereskan semuanya.
Aku begitu kesal, usai menjalani hukuman dari ibu, aku bergegas menuju kamar dan mendapati Lucy tengah duduk santai di balkon. “Aku tahu ini semua perbuatanmu!” Kataku sambil menghentakkan kursi rotan, tempat ia duduk. Secangkir teh di tangannya hampir saja tumpah. “Buat apa kamu kembali kalau cuma untuk merusak kebahagiaan kami?!”
“Kebahagiaan? Ini neraka!” Lucy beranjak dari tempat duduknya. Ia menghela nafas panjang. ”Baiklah, aku benci mengatakannya, tapi aku harus membawamu pergi dari sini!”
“Untuk apa? Aku bahagia!”
“Jangan bohong! Aku tahu semuanya!” Lucy menarik paksa tanganku, masuk ke dalam kamar. Lihat, ibu pernah membenturkan kepalamu di sini!” Tangannya menunjuk ke arah bercak darah mengering yang ada di dinding. Kemudian ia menunjuk ke arah meja, tak jauh dari tempat kami berdiri.“Ia juga pernah mengikat tanganmu di sana! Iya kan?! Dan lihat tongkat ini, ia pernah memukulmu dengan ini kan?!”
“Iii...ii..itu semua karena aku nakal. Ibu selalu mengatakannya padaku.”
“Itu karena ia marah pada ayah! Tapi ia tidak bisa memukul ayah, jadi ia memukulmu!”
Aku terdiam. Tiba-tiba bayangan masa kecilku berkelebatan dalam benak. Ada amarah yang tak bisa kumengerti.
“Sudahlah, jangan bermimpi ibu bisa menyayangimu lagi seperti dulu. Kekecewaannya pada ayah sudah membuatnya banyak berubah.”
“Tapi ia tetap ibuku. Aku tau ia sangat kesepian.”
“Dasar bodoh! Untuk apa memperdulikan perasaannya? Sebaiknya kamu segera berkemas. Kita harus pergi sekarang, sebelum semuanya terlambat!” Dengan tergesa Lucy menguras isi lemari pakaianku, memindahkannya ke dalam koper besar.
“Tidak mau! Aku sudah kehilangan ayah. Aku tidak mau kehilangan ibu!” Kemarahanku pada Lucy memuncak. Aku semakin membencinya. Ia terlalu ikut campur. Selama ini aku merasa kehidupanku baik-baik saja. Justru semenjak ia datang, segalanya menjadi kacau.
“Kalaupun ada yang harus pergi, dia adalah kamu!” Kutarik tangan Lucy dengan kasar menuju balkon. Ia meronta, tapi tanganku lebih sigap menggenggamnya. Diam-diam aku telah merencanakan ini. Sekarang tak ada yang bisa menghalangiku. Tubuhku seperti dirasuki setan jahat. Kudorong Lucy dari atas balkon lantai dua kamarku.
*****
“Lucy!!!” pekikku. Aku merasa seperti baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang dan melelahkan.
“Berhentilah menyebut nama itu! Siapa Lucy?! Semalaman kamu terus mengigaukannya.” Wajah ibu nampak panik. Entah sejak kapan ia ada dihadapanku.
Aku berusaha turun dari tempat tidur. “Lucy, Bu! Tadi aku mendorongnya dari balkon dan....”
“Brukkkk..!” Aku terjatuh ke lantai. Tiang penyangga infus turut jatuh, nyaris mengenai kepalaku. Aku mulai tersadar. Sebuah selang infus tertanam di tanganku, dan kedua kakiku terbungkus perban. Hey! Di mana kaki kiriku?! Di mana kakiku?!
“Kemarin kamu jatuh dari balkon, Nak,” kata ibu yang mulai berderai airmata. Bersama seorang perawat, ia memapahku kembali ke tempat tidur.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Antara percaya dan tidak, memandangi kakiku yang telah buntung. Lalu Lucy?! Di mana Lucy?!
Hening. Tak seorang pun menjawabku. Aku tertegun memandangi cermin yang terpasang di dinding. Aku melihat wajah Lucy di sana, tersenyum. Kukedipkan mataku. Wajah Lucy pun memudar, berganti dengan wajahku sendiri, ketakutan.

Meita

Malam kian larut. Hujan tumpah dari langit, seperti dendam yang tak mampu dibendung lagi. Angin berhembus kencang menghantarkan gigil yang luar biasa hebat. Meita menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya. Membiarkan ganasnya air menelusup lekuk tubuh yang terlanjur kuyup. Ia tak tau apa yang harus dilakukan. Ia sandarkan punggungnya di tembok yang kumuh oleh lumut dan gambar-gambar graffiti. Matanya menatap kosong jalan sunyi di hadapannya. Jalan yang menjelma sungai darah. Anyir merebak.
Meita memalingkan wajah perlahan. Di kanannya, sesosok tubuh lelaki terkulai, tanpa gerak, tanpa denyut. Pecahan botol minuman keras masih tertancap di perutnya. Kepalanya bocor, kulitnya dipenuhi sayatan luka. Entah siapa yang telah melakukannya. Meita sendiri pun tak tau. Bahkan ia tak mengenal siapa lelaki itu. Darimana asalnya. Bagaimana latar belakangnya. Meski begitu, Meita merasakan kesedihan mendalam saat menemukan lelaki itu sudah tak bernyawa. Lelaki itulah yang telah membebaskannya dari belenggu. Ia membawa Meita pada dunia ‘yang kata orang gelap’, namun justru bagi Meita, disitulah ia dapat merasakan menjadi manusia seutuhnya.
Pertemuannya dengan Dikas, nama lelaki itu, dimulai sekitar setahun yang lalu di taman kota. Ketika itu Meita tengah kabur tempat lesnya. Ia jenuh dengan aktivitas yang berjejal dan butuh sedikit menghela nafas. Iapun memilih duduk menyendiri, menghadap senja di deretan bangku panjang dengan dinaungi pohon akasia.
Tak lama Dikas datang, duduk di samping Meita. Lelaki itu berpenampilan aneh. Tubuh terbalut kaos hitam, jeans ketat dan sepatu boot kulit. Rambut mowhack. Perching menghias wajah dan telinganya. Di lengannya terukir gambar-gambar tatto menyeramkan. Ia juga menggenggam sebuah gitar kecil di tangan. Tentu Meita merasa ngeri, dan canggung. Namun perasaan itu segera cair ketika dengan cueknya Dikas memainkan gitar dan menyanyi.
“...kami berhak atas hidup kami...”
Suara Dikas cukup bagus. Meita terhanyut. Lirik lagu yang dibawakan Dikas sangat sesuai dengan apa yang tengah dialaminya. Seolah lagu itu memang ditujukan untuknya. Meita pun tergelitik untuk mengajak Dikas ngobrol. Barulah ia tahu, ternyata Dikas tak seseseram penampilannya. Bahkan ia teman ngobrol yang menyenangkan. Sampai-sampai, tanpa terasa, senja tergelincir dengan cepatnya. Ketika Meita sadar, rembulan telah bertengger di kakilangit. Ia panik dan segera beranjak dari tempat duduk. Belum sempat Meita melangkahkan kaki, Dikas menawarkan diri untuk mengantar Meita pulang. Sebuah tawaran manis yang sulit ditolak. Meita mengiyakan meski tau, ada seorang nenek sihir menantinya di rumah.
Benar saja, sesampainya di depan pintu rumah, Meita di sambut tatapan dingin mamanya. Ia disidang habis-habisan. Tapi entah kenapa, Meita tak merasakannya sebagai beban berat. Kata pedas dari mamanya tak mampu merontokkan bunga-bunga yang rupanya sedang mekar di hatinya. Pikirannya tak bisa lepas dari Dikas. Lelaki itu datang saat Meita sedang merasakan kejenuhan luar biasa.
Meita selalu menyesali kehidupannya yang tak seperti remaja lain. Juga kebahagiaan masa kecilnya yang terengut oleh ambisi ibunya sendiri. Sejak kecil ia tak pernah diizinkan untuk bermain. Lebih tepatnya, tidak diberi kesempatan untuk bermain. Hidupnya hanya berkutat seputar sekolah, belajar, les, latihan ini itu dan seabrek kegiatan lain yang cukup menyita waktu. Semua demi mendongkrak prestasi akademiknya. Memang hasilnya sangat membanggakan. Nilai Meita selalu diatas rata-rata. Bahkan predikatnya sebagai juara kelas belum pernah tergantikan oleh siapapun. Belum lagi penghargaan yang didapatnya dari hasil mengikuti berbagai kejuaraan, baik di dalam maupun di luar negeri, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Banyak orang berdecak kagum. Termasuk ketika mama Meita mengenalkannya pada rekan kerja maupun kerabat. Beliau tak pernah lupa menyebutkan serangkaian daftar prestasi yang pernah diraih oleh Meita.
Ekspresi bangga yang ditunjukkan mamanya di depan para kerabat itu justru membuat Meita muak. Kata pujian menjadi terasa hambar karena sudah terlampau lekat di telinga Meita. Deretan piala dan piagam yang menghiasi kamarnya pun tak berarti apa-apa. Semua dilakukan demi memenuhi ambisi mamanya. Di samping itu memang tak ada pilihan lain. Mamanya sangat otoriter dalam mendidik. Segala ucapannya merupakan perintah yang mutlak harus dipenuhi. Jangankan berani mengungkit soal hak, berbicara pada mamanya saja bibir Meita seringkali bergetar. Jauh berbeda dengan ketika ia menghadapi ratusan audience yang menyaksikannya berpidato bahasa Inggris. Begitu lantang dan penuh percaya diri.
Diam-diam Meita menyimpan dendam. Selama ini ia pandai menyembunyikannya. Namun lama kelamaan, dendam itu terakumulasi, menjadi bom waktu yang siap meledak. Terlebih sejak mengenal Dikas, Meita merasa ada kekuatan yang makin besar, mendorongnya untuk memberontak.
Ia mulai berani berbohong. Mengaku ada kegiatan sekolah sehingga pulang terlambat padahal sebenarnya ia pergi menemui Dikas. Ia juga jadi sering membolos les. Mamanya akan marah jika mengetahui namun Meita tak lagi peduli. Ia merasa telah menemukan dunia baru yang jauh berbeda dengan kehidupannya selama ini. Tak ada rasa malu di hatinya ketika bergaul dengan anak-anak punk di lingkungan yang kumuh. Ia juga tak malu mengikuti Dikas menjajakan suara atau nongkrong di jalanan. Malahan ia sangat menikmati, bahkan merasa takjub.
Di sisi lain, mama Meita mulai kelabakan. Nilai Meita yang kian hari kian anjlog. Ia datangkan banyak guru les privat ke rumah. Beragam buku soal dibelinya agar bisa dijejalkan di otak Meita. Tak lupa, berbagai produk suplement dibelinya dengan harapan, Meita bisa kembali pintar seperti iklan-iklan menggiurkan yang ditawarkan di televisi. Namun justru itu membuat Meita jengah dan sulit menghela nafas. Sampai akhirnya, pada suatu malam, Meita benar-benar tidak tahan dan memutuskan kabur dari rumah.
Tak terbayangkan di benak Meita sebelumnya. Barangkali juga tak ada seorangpun yang menyangka bahwa dulunya ia adalah seorang bintang kelas. Kini, penampilannya berubah drastis, dengan dandanan ala punk, seperti teman-temannya. Namun Meita sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Ia mendapatkan kebebasan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Tak ada yang bisa mengekangnya lagi. Walaupun sebagai konsekwensi, ia harus menjalani kehidupan yang keras dan serba tak pasti.
Selama ada Dikas, Meita tetap merasa aman. Dikas selalu melindunginya. Tak cuma itu, meski dandanannya sangar, teman-teman Dikas ternyata memiliki rasa solidaritas tinggi. Mungkin karena kebanyakan berangkat dari persamaan nasib dan latar belakang. Seperti Meita, mereka memiliki masalah keluarga yang cukup pelik sehingga jalanan menjadi tempat pelarian.
Hujan tak sederas tadi. Gang sempit tempat Dikas terkapar kembali diramaikan lalu-lalang orang. Tak ada seorangpun yang mempedulikannya. Meita sendiri sibuk dengan pikirannya, siapa yang telah membunuh Dikas? Mengapa harus dibunuh? Meita mencoba mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Dikas. Siang tadi ia pamit pergi ke tempat aborsi untuk menggugurkan janin yang telah tiga bulan bersarang di perutnya. Namun, sore hari, sekembalinya Meita, ia mendapati Dikas telah penuh luka.
Berjam-jam Meita terpaku mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Namun tak satupun petunjuk didapatnya. Dengan perasaan kalut dan tatapan kosong, Meita beranjak meninggalkan jasad Dikas sendirian. Ia melangkah gontai. Menyusuri tiap jengkal trotoar yang penuh sampah. Sesekali ia melirik ke sudut-sudut pertokoan, berharap menemukan sebutir nasi untuk mengganjal perutnya. Sejak pagi ia tak makan. Beberapa hari yang lalu ia berhasil mencopet dompet seorang mahasiswi. Tapi rasa bersalah terus memburunya hingga kini. Ingin mengamen pun rasanya tak mungkin. Kondisi tubuhnya sedang tak bisa diajak kompromi.
Meita duduk di tepi trotoar, dekat lampu merah. Diperhatikannya anak-anak kecil berpakaian lusuh. Singgah dari satu mobil ke mobil lain sembari menengadahkan tangan. Begitu polosnya mereka. Ia teringat nasibnya sendiri. Sejak kecil ia tak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Segalanya dilakukan atas perintah sang mama. Meitapun melempar pandang ke seberang jalan, di sebuah rumah makan padang. Perutnya kembali perih. Berkali-kali ditelannya ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Namun dahaganya tak kunjung reda bahkan perutnya kian melilit.
Secara tak sengaja, Meita melirik televisi yang terpasang di rumah makan itu. Meski pandangannya mulai kabur, dari jarak yang cukup dekat ia masih dapat melihat sosok yang ada dalam tayangan di televisi. Apalagi sosok itu begitu dikenalnya. Seorang wanita paruh baya, mengenakan blezer hitam, duduk di samping seorang pembawa acara. Air matanya berderai. Di tangan wanita itu terpampang sebuah foto besar. Foto Meita.
Meita mengepaklan kedua tangannya. Matanya memerah. Darahnya berdesir naik. Amarahnya memuncak melihat wajah wanita itu. Kenangan masa lalu berkelebat memenuhi benaknya. Ingin ia ledakkan semua kata yang menggumpal bertahun-tahun di dalam dada dan membuatnya sesak. Namun lagi-lagi gigil mengurung tubuhnya. Hanya giginya gemeletuk geram. Dan air mata meluncur jatuh dalam genangan air, menghiasi trotoar.
Hujan masih menyisakan sedikit gerimis. Meita bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan dengan langkah terseret . Tubuhnya sedikit oleng ketika rasa nyeri kembali menusuk perutnya. Bukan hanya sekedar lapar. Tadi siang, peralatan aborsi telah mengobrak-abrik rahimnya. Entah, apakah janin dalam kandungannya masih bernyawa atau tidak sekarang. Ia keburu kabur sebelum janin itu berhasil dikeluarkan. Ada rasa bersalah di hati kecilnya. Ia tak ingin nasib yang sama menimpa anaknya kelak. Jika kandungannya selamat, ia berjanji akan merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Terlebih, setelah Dikas meninggal, anak itulah yang akan menjadi satu-satunya kenangan bagi Meita, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, ia dapat merasakan kebahagiaan. Meski, belum terpikir di benak Meita bagaimana dan dengan cara apa ia membesarkan anak itu nanti.
Meita masih terus berjalan menyusuri trotoar, menyibak tempias lampu jalanan. Ia tak tau harus pergi ke mana. Yang jelas ia tak akan pulang. Tak akan pernah pulang!
*****