Sabtu, 24 Desember 2011

Pada Malam Natal Aku Melihat Santa Clause


Pada malam natal
aku melihat santa clause
Ia keluar dari mesin percetakan dalam jumlah ribuan eksemplar
Wajahnya terpampang manis tanpa kumis
menawarkan produk alat cukur

Di lain hari kutemukan ia berjemur di aspal
Menyebar flayer-flayer bergambar menu natal
Aih, betapa perutnya yang buncit
cermin citarasa tiada tara

Kadang ia menjelma sepasang gupala
Parasnya ajaib mirip manekin
Menyapa langkah yang lalu
di depan pintu toko baju

Ho…ho...ho….
Santa Claus Santa Claus
Tawa berguguran  di pilar atrium
seperti salju dan lollipop   
Ribuan tubuh bermata keledai
menyepuh lowerground
Mereka penuhi  troli dengan mimpi kanak-kanak
dan pundi di perut Santa

Ho…ho...ho...
Santa Claus Santa Claus
Di pamflet tawanya menyergap mata
Baliho mengisi ruang-ruang tempurung kepala

Hey,
Aku melihat santa claus malang
terperangkap di ranting cemara
Itukah sebabnya
 Ia biarkan kosong
Kaus kaki yang kugantung
di hatiku?!

Senin, 19 Desember 2011


Tentang Pelangi Kecilku

Aku membaca senja yang hilang di matamu
Siapa sembunyikan tarian tujuh rupa bidadari?

Sekeping mozaik diasingkan waktu
Pelangi kecilku meniup tujuh cahaya lilin
Itulah tonggak habisnya segala pelita jiwa
Adalah sekedar dalih darah yang mengaliri nadi
Sebab hulunya telah ditanam benci
Dua pasang mata dulu singgah dalam bahtera
Pelangi kecilku bertanya:
Apakah detak yang mereka cipta bagian dari prosesi
dan bukan pernyataan cinta?

Masih lekat semalam ibunda berbisik
mantera manis bungabunga mimpi
Selalu
Ia latah di akhir kisah
“Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya”

Rupanya dinding mulai jemu mengendapkan  kebohongan
Dinihari retak menyemburkan lukaluka karatan
Angin sibuk merekam makian
Embun saling bentur berdenting
jatuh di kelopak yang terpejam ketakutan

Pelangi kecilku menepi di sudut rumah kematiannya
demi tak ingin lagi melihat kasih sayang
demi tak mau dengar ketukan ayah ibu pulang
Katanya:
Pagi ini aku terbangun dan kudapati jejak kaki
mengarah pada dua belantara berbeda
Aku adalah anak yang lahir dari tekateki
dan akan tetap tumbuh bersamanya!

Kekasih
Aku tiba di depan pintu yang kau pagari
Sungguh
Takkan kutinggalkan engkau hanya karena itu
Sebab nestapa telah tersemat layaknya cincin di jari manis kita

( 19 September 2009)

Dunia Bisu





Untuk pertama kalinya jiwaku luluh lantak oleh sebuah sorot mata tajam. Ia seperti pelangi, membawa serta peri- peri dalam rengkuh candikala. Dan aku dicurinya, dibawanya menari sepanjang senja. Ia memelukku dengan cahaya warna warni  Dunia bisu, tapi kami mengerti. Jernih tatapnya bicara cinta. Lebih gamblang dari seribu kata yang menggetarkan dibanding sejuta rayuan.

Dunia bisu,
Aku mengerti ia mengerti
Matanya bicara resah
Melihat tatapku gelisah

Detak jantungku menyempitkan waktu. Parade pelangi memang akan berakhir. Berganti selimut petang yang sempurna. Tapi kami masih menari. Diiringi tetabuhan pilu dan tangis bercampur gerimis tipis. Tersisa hanya biasmu, dunia masih bisu. Aku melepasmu dengan caraku, dengan sorot mata tajam itu. Tepat purnama ketujuh, aku setia menghadirkanmu, dalam malamku, dalam doa-doaku. Aku lumpuh, aku sakit. Bukan karna hujan yang mengguyurku sejak kemarin. Bukan karna angin dingin yang mencengkeramku hingga aku mati menggigil.Karnamu.

Angin dan debu berbisik kata rindu untuk kota kecil itu
Sepi dan aku sendiri
Meski kau lihat di bawah sana
Hingar bingar karnaval wajah rupawan
Beserta iring- iringan kendaraan hias berlapis emas
Dari atap gedung tua ini, aku tak bergeming
Masih setia menanti pelangi

(Mei 2009)

Wanita dengan Buah Kweni di Punggungnya


Sekali lagi matahari harus bertekuk lutut,
menyerah kalah,
seperti pagipagi sebelumnya

Dunia masih lelap dalam buaian
mimpi yang tak juga kesampaian
Matahari terpejam
Udara terpejam
Hati terpejam
Bulan hampir terpejam

Akuilah wahai surya
Wanita itu lebih perkasa
dipaksanya pagi membelalakkan mata
Mencakar lereng bukit
menyeruak, menyisiri semak tebu
menelusuri akar jati hingga ke bawah
kakikaki telanjang
mencium mesra tanah berbatu
Burung kecil adalah orkes sepanjang jalan
Senandung kehidupan dan perjuangan
Dicumbu pagi buta,
merekalah penguasa saat kau masih terlena

Dan ketika kau terlambat menyadari geliat kehidupan
Bergegas Menggeregah Berbenah
membentangkan selendang warna emas dari balik bukit
Kau cipratcipratkan pada daun, embun
pada bungabunga tebu
pada tenggok di punggungnya yang harum buah kweni
Sesungguhnya mereka telah siap mengajakmu berlari
Dan akhirnya akuilah sekali lagi
wahai matahari
wanita itu jauh lebih perkasa memeluk pagi

(Yogya, 2009)

Sabtu, 17 Desember 2011

Sehari 'Jadi Tentara'

Dengan alasan sepi, tak ada teman, bingung mau ngapain, beberapa sudah pulang menikmati libur kuliah di jogja, maka kami, penghuni kontrakan yang masih tersisa memutuskan untuk menikmati weekend dengan berjalan-jalan di seputaran bandung. Tujuan pertama kami (awalnya), adalah mengunjungi pameran craft yang terletak di jalan aceh no 15. eh, oleh angkot kami diturunkan di jl aceh no 50..sekian. Terpaksa kami harus jalan kaki di siang yang terik. parahnya, kami belum pernah melewati jalan itu sebelumnya. Tak lama kami melintas di kawasan markas TNI. Setelah aksi sikut menyikut, seorang temanpun memberanikan diri untuk bertanya jalan pada seorang tentara yang sedang berjaga. Petunjuk arah telah kami kantongi. Bukannya melanjutkan perjalanan, perhatian kami justru tertuju pada deretan tank besar yang terpajang di halaman. Kata pak tentara, di tempat itu memang sedang diselenggarakan pameran kendaraan dan alat perang milik TNI-AD. Tanpa menunggu lebih lama, kami berkeliling, menaiki satu persatu kendaraan, mencoba-coba senjata yang tentu saja nggak ada pelurunya, dan yang terpenting mengabadikannya lewat foto untuk dipasang di profil FB. Melihat pameran itu, pikiranku

Rabu, 14 Desember 2011

Dago


Berkunjung ke Dago membuatku teringat pada Vendenbrug di Yogyakarta, kota kelahiranku.Tempat ini adalah tempat nongkrong dan berkumpulnya berbagai komunitas di Bandung. Kalo ingin mengetahui perkembangan fashion terbaru, tempat ini patut dijadikan acuan. Melihat orang lalu-lalang, sepertinya sulit membedakan mana yang artis,yang mirip dan yang bukan artis. Mereka berani mengekspresikan diri lewat dandanan dan pakaian yang dikenakan.Mungkin karena telah menjadi pemandangan sehari-hari, yang melihatpun tidak merasa itu sebagai hal aneh dan berlebihan.

Senin, 12 Desember 2011

Workshop Desain Produksi dan Strategi Pemasaran Marchendice Band

       Dua hari kemarin (10-11 Desember 2011), aku dan kawan2 mengikuti sebuah workshop di Common Room. Pembicaranya kebanyakan dari Iluminator, sebuah komunitas pekerja gambar untuk band2 Underground. Metal, Underground! Sesuatu yang nggak aku banget. Dan bener, hari pertama aja kami harus membuat sketsa,dan harus zombi! Zombi yang seram dan berdarah-darah itu! Semula, aku yang cuma ngikut teman n nggak tau apa2, sempat merasa bukan tempatku berada di situ. Tapi untunglah cuma sebentar, karena selebihnya sangat menyenangkan. Banyak ilmu baru yang kudapat. Aku jadi tahu bagaimana cara mendesain kaos mulai dari tahap ide, sket, inking, n painting, menyablon hingga bagaimana memasarkannya. Nggak nyesel deh apalagi dapat kaos gratis. hehe..


Dari kanan: Hasil sketsa Totok Ardyanto, Ario Murti, Andhi Ayu, Isyka Syukriya

Sketku: Meski zombie tetep 'unyu' kan

Kaos yang kami dapat dari hasil workshop

 
Suasana Workshop

Minggu, 11 Desember 2011

Pengelana Laut

Purnama ganjil setia mematut sepi
sekali waktu menyatu debur perahumu
Airmataku adalah samudra yang tengah kau arungi
Menepilah ke dermaga,
sebelum karam keangkuhanmu

2010

Lanskap Yogya

Gedung-gedung berjejal congkak
Kotaku tak lagi punya ruang untuk sekedar
merebahkan punggung malam
yang mulai encok, memanggul sejarah

Anak-anak kehilangan candikala
Kehilangan petak sawah
tempat menembang lagu dolanan
menyibak tawa diantara kembang jagung
yang mekar

Lalu rembulan jatuh begitu saja di dasar sungai yang keruh
menenggelamkan rindu
tanpa sayup megatruh
sunyi kinanthi

Di sini
orang-orang berduyun dari segala penjuru
melahap euforia dengan rakus
merenggut paksa kesakralan tanah moyangnya

Sepasang beringin kembar
terasing
menepi dari arus waktu
Ke Nirbaya
mereka menyeret langkah
mengusung keranda

2010

Pada Suatu Hari di Kota Boneka

Perempuan itu tertatih,mendekap bayi merah
Mata lantang menatap kota tujuan
Meski tak sempat sembunyikan pasi wajah
Belum kering darah di antara dua betisnya
menggenangi jalan raya
Sayap-sayap kuyup tak sempat terpungut
malaikat terhenyak, lupa menutup mulut
mereka urung menyematkan doa di ubun-ubun jabang
petaka si bapa lebih dulu menyerang

Masih lekat lebam disekujur tubuh
Juga rahim istri yang remuk oleh murka
Mengapa harus lahir bayi-bayi perempuan
Yang hanya akan pandai bergincu
Sementara langit mulai doyong
Dan tangan yang semula kekar
Terlampau keriput menyangga langit

Dalam genggaman,
tangan mungil bocah ingusan
Di hati terbesit tanya, mau ke mana
Ini kota begitu asing
Terali di segala penjuru mata angin
Mengapa amat kelam
Rumah jembatan dan gedung berwarna ungu
Mengingatkannya pada lapar yang menggerus lambung sejak semalam
Orang lalulalang dengan punggung ditumbuhi gerigi mesin
seperti boneka
yang selama ini ia idamkan

Matahari memar
Di depan pertokoan perempuan berhenti berjalan
Tangannya tabah mengetuk satu pintu
Engkau musti belajar mengeja degup jantung
Aku menandai luka, yang akan menuntun bila kau rindu pulang
sebab tau bayi merah akan hilang,
ditelan riuh bibir merancau mimpi
maka ditancapkannya rusuk ke dalam hati
menanam ari-ari

tak lama
seorang keluar
melempar setumpuk uang

Bocah ingusan terbata
Tiba-tiba adik perempuannya
terpajang di etalase
seperti boneka
dengan tunas-tunas angka mengerikan tumbuh cepat
merayap dari balik punggung
dengan mata menyala

Perempuan segera membawa sulung pergi. pulang kepada nasib. Namun langkahnya kian tertatih. Baut mulai rontok dari kakinya. Jari-jari menjadi sebentuk kumparan kawat. Dadanya menjelma lempengan besi. dengan kabel berjuntai. mengeluarkan asap.

Ada pekik memecah kota
Kelopak bunga berguguran dari ceruk mata

April 2010

Plaosan

Angin kerontang memungut sepotong awan
Kepak burung hitam
tumbang menampar terik
Kaoknya parau
bagai sayatan sabit malaikat
Liang semut telah berabad lalu ditinggal penghuni
rengkah
di balik ilalang kering

Sepasang kaki menjejak
pusara sejarah tanpa kamboja
Lahat menganga
risau menunggu kematian
melenggang tanpa wujud

Di dinding batu yang gelap dan dingin
tangan gaib merangkai ceceran huruf berkabung
Amitbha Aksobya Vajrapani Manjusri
Diakah Bodhisattva yang bersimpuh
menahan perginya sang Budha?
Arca bergelimpangan tanpa kepala
Oh, pembantaian semalam menyisakan
anyir darah
dan desir kekosongan

Aku Pramudya Wardani
Putri Samaratungga!
Kutebar kuncup melati di atas jasadku
Agar semerbak lesap dalam kalbu kekasih
Ingatkah ketika kau letakkan gelora di pucuk-pucuk perwara?
Dua kerajaan langit bertikai
menghunus pedang ke jantung kita

Air mata telah mensucikan kenangan
Musykil sirna sekalipun pahatan kisah runtuh
bersetubuh puing ganjil

Kelelawar berhambur dengan tengkuk merinding
Suara gemuruh terpantul di lorong sunyi
“Plaosan, lambang cinta abadi!”

Dongeng buat Bunda

Baju itu ibu sulam benang asa
Jarum dibayar di muka
Hutang dianggap tiada
Disucikannya malam hari dengan air relung hati
Di kedalaman sumur doa bunda tetap terjaga

Biar Ma, baju itu kutulisi cerita
Akan kudongengkan pada anakku
Biar Ma, pabrik tekstil itu nanti aku yang punya
Kau mau berapa? Sejuta?
Kubuatkan baju yang sama
Tapi izinkan
Izinkan kukabarkan pada jalan-jalan
Agar mereka yang beku aturan turut merayakan kemenangan
Selusin tahun terpasung di balik bangku membosankan
saatnya lepas sangkar

Jalanan!
Lihat sebiji angka di jidatku bersinar-sinar
Walau kalau kau jeli akan nampak agak karatan
Cukup itu perlu kau tau, mohon lainnya dirahasiakan
Telah dimerdekakan kebodohan
(atau kemerdekaan yang dibodohkan?)
Kusandang predikat palsu,
aku masih musuh ilmu, buta aksara, moral juga
Seperti bangsa barbar
kita belajar cara menghidupi nafsu yang hampir tewas terkapar

Jalanan
Tempat meniti mimpi
namun ananda lupa
juga tempat menata nisan
Lupakan cita-cita menjadi penguasa berdasar hukum rimba
Sempatkah menolak? Pilihan kedua telah dijatuhkan
Ananda pulang ditutup kafan

Kembali dicuci baju anaknya di muara air mata
Namun tak juga hilang putih abu, biru, merah tua
Baju penuh noda luka-luka bunda

Tetap disimpannya dalam kotak mustika
Layaknya lembaran buku cerita
Berkisah sepanjang malam
sebagai pengantar tidur bunda
hingga akhir hayatnya

Juni 2009

Lucy

Rembulan berseri cerah. Tak ada awan menghalangi cahayanya untuk menembus jendela kamarku. Beberapa detik lagi, Juni akan tiba membawa musim kemaraunya. Sebelum itu, aku berharap ada angin datang, menyapu keringatku. Sayang,harapanku sia-sia. Sebenarnya bukan hanya udara panas yang membuatku tidak dapat terpejam. Pikiranku masih disibukkan oleh kejadian tadi siang, saat seorang perempuan datang ke rumah. Aku melihat ibu memeluknya dengan erat. Pelukan yang segera membuatku iri. Aku begitu mendambakan pelukan itu sejak kecil, namun tak pernah kudapatkan dari ibu hingga sekarang.
“Ini Lucy, kakakmu,” kata ibu saat mengenalkannya padaku.
Kakak? Ternyata aku punya kakak?!
Lucy bercerita, saat umurnya lima belas dan aku empat tahun, ia pergi dari rumah karena tak tahan mendengar pertengkaran kedua orangtua kami yang terus menerus. Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu ia mendengar kabar bahwa kedua orangtua kami resmi bercerai. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
Aku berusaha menginggat kenangan bersama Lucy saat masih kecil. Tak satupun terlintas di benakku. Tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Belakangan, aku sering melihatnya saat perjalanan ke sekolah. Aku juga pernah berpapasan dengannya di bus, saat akan pergi ke gereja. Ia seperti mengawasiku, membuat perasaanku gelisah.

DPR Harus Mau Bercermin

Setelah berbagai pandangan miring ditujukan pada para petinggi negeri, kali ini kembali DPR menjadi sorotan.Rencana pembangunan gedung DPR baru yang akan dimulai Oktober mendatang dan diperkirakan menelan biaya 1,6 teriliyun rupiah sontak menuai protes dari rakyat. Hal itu dinilai terlalu mewah dan berlebihan. Menurut rencana, gedung baru nantinya akan dibuat 36 lantai dengan luas 159.000 m2. Ruang setiap anggota DPR yang tadinya berukuran 32 m2 akan diperluas lagi nyaris empat kali lipat menjadi 120 m2. Padahal jika dihitung rata-rata harga satu ruangan DPR saja sekitar 2,8 miliar. Belum cukup dengan itu, akan dibuat pula kolam renang, ruang pijat dan spa di dalamnya.
Tentu saja hal ini sangat melukai hati rakyat. Di tengah kemiskinan yang tak kunjung reda, DPR malah asyik mempersolek diri. Alasannya agar DPR dapat semakin meningkatkan kinerjanya. Juga sebagai salah satu bentuk reword terhadap DPR yang selama ini ‘telah’ memperjuangkan nasib rakyat. Padahal korupsi merajarela. Belum lagi, masih banyak kebijakan DPR yang tidak memihak terhadap rakyat. Apa dengan pembangunan gedung baru dapat menjamin masalah dapat teratasi? Atau justru DPR akan semakin terlena dengan kemewahan dan jauh dari rakyat kecil. Sudah selayaknya DPR mengkaji ulang perlu tidaknya pembangunan gedung baru tersebut.
Bukankah lebih baik anggaran itu dialihkan untuk mensejahterakan rakyat, khususnya dalam hal pendidikan. Sungguh memprihatikan, di luar sana ada banyak gedung sekolah yang sudah tak layak huni namun perhatian pemerintah sangat minim. Beberapa bahkan sampai roboh mencederai murid-muridnya. Padahal murid-murid itulah yang kelak akan menjadi penerus bangsa menggantikan para pemimpin negeri ini. Meski begitu, dengan segala keterbatasan, mereka tetap semangat bersekolah demi meraih cita-cita mengharumkan nama bangsa. Seharusnya DPR malu dan mau bercermin. Kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih sesuatu. Rasa prihatin justru dapat menjadikan diri lebih mawas, juga sebagai pemicu semangat untuk bisa lebih baik lagi.

Di muat di Harian Minggu Pagi, 2010

Awas, Cybercrime Mengintai

Beberapa tahun terakhir jejaring sosial seperti facebook dan twitter menjadi sangat populer dan fenomenal. Bahkan di Indonesia sendiri penggunanya mencapai lebih dari 25 juta orang. Dibanding negara-negara lain di dunia, jumlah ini termasuk yang terbesar. Hal ini semakin dipersubur oleh tarif operator yang semakin terjangkau dan bermunculannya HP-HP murah dengan fitur lengkap sehingga memungkinkan setiap orang dapat mengakses internet dengan mudah.
Komunikasi yang serba praktis adalah faktor kenapa facebook dan twitter begitu melekat di hati masyarakat. Masyarakat dapat mencari teman lama maupun baru, saling bertukar pikiran dan informasi. Bahkan dapat pula sebagai ajang promosi usaha.
Di kalangan remaja, jejaring sosial menjadi trend tersendiri. Salah satunya adalah untuk menunjukkan exsistensi. Belum gaul jika belum memiliki akun facebook. Karena itulah mereka berlomba memasang foto semenarik mungkin, mengumbar identitas, mencari teman sebanyak-banyaknya dan rajin menulis status. Semakin banyak orang tau aktivitas kemudian mengomentarinya, semakin banggalah mereka. Tanpa mereka sadari, di balik itu mungkin ada penjahat yang siap memanfaatkan keadaan.
Belakangan “Cybercrime” atau tindak kriminal yang dilakukan melalui internet semakin marak. Sejak awal tahun 2010 tercatat beberapa kali terjadi kasus penculikan yang bermula lewat perkenalan di facebook. Pelaku bisa dengan mudah menyamarkan identitas. Modusnya adalah dengan berkenalan melalui facebook, chatting, dilanjutkan saling bertukar nomor HP. Sampai akhirnya kopi darat (bertemu secara langsung). Tindak penculikan semacam itu mungkin tak berhenti sampai di situ saja. Bisa jadi terkait pula dengan jaringan human trafficing (perdagangan manusia) yang akibatnya akan lebih buruk.
Situs jejaring sosial memang ibarat dua sisi mata uang. Tapi bukan berarti harus dihindari. Bagaimanapun banyak nilai positif yang dapat kita serap darinya. Kita hanya dituntut untuk lebih selektif dan bijak menyikapi. Sadari betul dampaknya, baik positif maupun negatif. Jangan mudah percaya dengan data yang terpampang profil di facebook. Begitupun ketika menerima ajakan pertemanan. Pastikan dulu siapa, bagaimana latar belakangnya dan apa tujuannya.
Disamping itu, peran orangtua tak kalah penting. Sebagai filter utama, mau tak mau orang tua harus bisa mengikuti perkembangan tehknologi agar dapat memantau kegiatan anak. Jalin komunikasi dengan baik dan beri pengertian bahwa internet haruslah digunakan secara seimbang. Bagaimanapun kehidupan sosial yang nyata tetap tidak dapat tergantikan oleh situs-situs jejaring sosial secanggih apapun di dunia maya.

Dimuat di Harian Minggu Pagi, 2010

Dilema TDL

Belum genap sebulan sejak diumumkannya kenaikan tarif dasar listrik sebesar 6-18%, dampak yang diakibatkan sudah cukup terasa meski bukan secara langsung. Hal ini dapat ditandai dengan melonjaknya harga sembako dan kebutuhan pokok lain. Padahal sebenarnya kenaikan TDL hanya ditujukan bagi kalangan menengah atas dan industri, namun rupanya rakyat kecil turut pula menerima imbasnya. Bagaimana tidak, listrik merupakan kebutuhan pokok. Bagi industri sendiri, kenaikan TDL berpengaruh terhadap meningkatnya biaya produksi. Otomatis, harga jual produkpun ikut naik. Meski demikian, produsen tak dapat menetapkan harga terlampau tinggi mengingat persaingan ketat dan minat pembeli yang cenderung menurun. Satu-satunya jalan adalah dengan pemangkasan biaya produksi, yang akhirnya berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Dilematis memang, di sisi lain, tujuan pemerintah menaikkan TDL adalah untuk mengendalikan subsidi sebesar 55,1 triliun. Selama ini subsidi listik diberikan secara merata, baik untuk kalangan mampu maupun tidak mampu. Padahal, pemerintah dan PLN tengah kewalahan menutup biaya operasional yang membengkak dikarenakan kebutuhan listrik masyarakat yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jika TDL tetap, maka perlu adanya tambahan subsidi. Bukan tidak mungkin bisa mencapai dua kali lipatnya. Hal ini tentu tidak baik bagi perkembangan ekonomi negara. Subsidi bagi masyarakat mampu seyogyanya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain seperti peningkatan sarana prasarana PLN atau dialihkan untuk sektor pembangunan lain.
Akhirnya, tak ada pilihan lagi bagi masyarakat kecuali menjadikan momentum kenaikan TDL sebagai pembelajaran. Ketika TDL murah, masyarakat cenderung boros dalam penggunaan listrik. Sekarang masyarakat dituntut untuk lebih berhemat dan tidak manja. Bayangkan, selama ini masyarakat rela mengeluarkan uang berapapun untuk rokok dan pulsa. Seharusnya masyarakat tak perlu mengeluh dengan kenaikan TDL. Toh, keputusan itu diambil untuk kebaikan bersama. Pihak PLN pun harus konsekwen yaitu dengan terus meningkatkan pelayanan. Semoga, dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, PLN dan masyarakat, dampak kenaikan TDL bisa segera teratasi dan ekonomi negara menjadi lebih baik di masa depan.

Dimuat di harian Minggu Pagi, 2010

Kabar Duka dari Prambanan

Dengarkan baik- baik, relief itu saling berbisik
menggunjingkan sejarah yang telah banyak berubah
Gendhing jawa terasa hampa
Rama dan Shinta bosan bercinta

Siang hari arca dipuja
Malam hari ia mendesah sendiri
mencari puing kuping yang hilang dicuri
Kenapa tuhan dikhianati?

Rasakan daun telingamu bergetar
oleh jerit pilu dari celah batubatu
Shiwa murka, katanya
wisnu dikurung, ia disekap
Brahma diikat!
Prambanan porak poranda kena gempa!

Siapa peduli?!
Bandung masih berdendang
lagu cinta yang tiada berkesudahan
Di bawah sana negrinya berantakan
sisa perang bela negara
ia berdendang sepanjang masa
masih abadi dendamnya

Jonggrang jelita,
dari matanya menetes air mata darah
Seribu kenangan pahit menjadi pondasi
yang tiada lapuk juga ditelan zaman
Hingga ia tetap bertengger arogan

Lihatlah satu relief tak utuh, terserak,
terseok, terbatabata berkata
tak berguna berbangga
yang berjaya pasti ada akhirnya