Minggu, 11 Desember 2011

Meita

Malam kian larut. Hujan tumpah dari langit, seperti dendam yang tak mampu dibendung lagi. Angin berhembus kencang menghantarkan gigil yang luar biasa hebat. Meita menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya. Membiarkan ganasnya air menelusup lekuk tubuh yang terlanjur kuyup. Ia tak tau apa yang harus dilakukan. Ia sandarkan punggungnya di tembok yang kumuh oleh lumut dan gambar-gambar graffiti. Matanya menatap kosong jalan sunyi di hadapannya. Jalan yang menjelma sungai darah. Anyir merebak.
Meita memalingkan wajah perlahan. Di kanannya, sesosok tubuh lelaki terkulai, tanpa gerak, tanpa denyut. Pecahan botol minuman keras masih tertancap di perutnya. Kepalanya bocor, kulitnya dipenuhi sayatan luka. Entah siapa yang telah melakukannya. Meita sendiri pun tak tau. Bahkan ia tak mengenal siapa lelaki itu. Darimana asalnya. Bagaimana latar belakangnya. Meski begitu, Meita merasakan kesedihan mendalam saat menemukan lelaki itu sudah tak bernyawa. Lelaki itulah yang telah membebaskannya dari belenggu. Ia membawa Meita pada dunia ‘yang kata orang gelap’, namun justru bagi Meita, disitulah ia dapat merasakan menjadi manusia seutuhnya.
Pertemuannya dengan Dikas, nama lelaki itu, dimulai sekitar setahun yang lalu di taman kota. Ketika itu Meita tengah kabur tempat lesnya. Ia jenuh dengan aktivitas yang berjejal dan butuh sedikit menghela nafas. Iapun memilih duduk menyendiri, menghadap senja di deretan bangku panjang dengan dinaungi pohon akasia.
Tak lama Dikas datang, duduk di samping Meita. Lelaki itu berpenampilan aneh. Tubuh terbalut kaos hitam, jeans ketat dan sepatu boot kulit. Rambut mowhack. Perching menghias wajah dan telinganya. Di lengannya terukir gambar-gambar tatto menyeramkan. Ia juga menggenggam sebuah gitar kecil di tangan. Tentu Meita merasa ngeri, dan canggung. Namun perasaan itu segera cair ketika dengan cueknya Dikas memainkan gitar dan menyanyi.
“...kami berhak atas hidup kami...”
Suara Dikas cukup bagus. Meita terhanyut. Lirik lagu yang dibawakan Dikas sangat sesuai dengan apa yang tengah dialaminya. Seolah lagu itu memang ditujukan untuknya. Meita pun tergelitik untuk mengajak Dikas ngobrol. Barulah ia tahu, ternyata Dikas tak seseseram penampilannya. Bahkan ia teman ngobrol yang menyenangkan. Sampai-sampai, tanpa terasa, senja tergelincir dengan cepatnya. Ketika Meita sadar, rembulan telah bertengger di kakilangit. Ia panik dan segera beranjak dari tempat duduk. Belum sempat Meita melangkahkan kaki, Dikas menawarkan diri untuk mengantar Meita pulang. Sebuah tawaran manis yang sulit ditolak. Meita mengiyakan meski tau, ada seorang nenek sihir menantinya di rumah.
Benar saja, sesampainya di depan pintu rumah, Meita di sambut tatapan dingin mamanya. Ia disidang habis-habisan. Tapi entah kenapa, Meita tak merasakannya sebagai beban berat. Kata pedas dari mamanya tak mampu merontokkan bunga-bunga yang rupanya sedang mekar di hatinya. Pikirannya tak bisa lepas dari Dikas. Lelaki itu datang saat Meita sedang merasakan kejenuhan luar biasa.
Meita selalu menyesali kehidupannya yang tak seperti remaja lain. Juga kebahagiaan masa kecilnya yang terengut oleh ambisi ibunya sendiri. Sejak kecil ia tak pernah diizinkan untuk bermain. Lebih tepatnya, tidak diberi kesempatan untuk bermain. Hidupnya hanya berkutat seputar sekolah, belajar, les, latihan ini itu dan seabrek kegiatan lain yang cukup menyita waktu. Semua demi mendongkrak prestasi akademiknya. Memang hasilnya sangat membanggakan. Nilai Meita selalu diatas rata-rata. Bahkan predikatnya sebagai juara kelas belum pernah tergantikan oleh siapapun. Belum lagi penghargaan yang didapatnya dari hasil mengikuti berbagai kejuaraan, baik di dalam maupun di luar negeri, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Banyak orang berdecak kagum. Termasuk ketika mama Meita mengenalkannya pada rekan kerja maupun kerabat. Beliau tak pernah lupa menyebutkan serangkaian daftar prestasi yang pernah diraih oleh Meita.
Ekspresi bangga yang ditunjukkan mamanya di depan para kerabat itu justru membuat Meita muak. Kata pujian menjadi terasa hambar karena sudah terlampau lekat di telinga Meita. Deretan piala dan piagam yang menghiasi kamarnya pun tak berarti apa-apa. Semua dilakukan demi memenuhi ambisi mamanya. Di samping itu memang tak ada pilihan lain. Mamanya sangat otoriter dalam mendidik. Segala ucapannya merupakan perintah yang mutlak harus dipenuhi. Jangankan berani mengungkit soal hak, berbicara pada mamanya saja bibir Meita seringkali bergetar. Jauh berbeda dengan ketika ia menghadapi ratusan audience yang menyaksikannya berpidato bahasa Inggris. Begitu lantang dan penuh percaya diri.
Diam-diam Meita menyimpan dendam. Selama ini ia pandai menyembunyikannya. Namun lama kelamaan, dendam itu terakumulasi, menjadi bom waktu yang siap meledak. Terlebih sejak mengenal Dikas, Meita merasa ada kekuatan yang makin besar, mendorongnya untuk memberontak.
Ia mulai berani berbohong. Mengaku ada kegiatan sekolah sehingga pulang terlambat padahal sebenarnya ia pergi menemui Dikas. Ia juga jadi sering membolos les. Mamanya akan marah jika mengetahui namun Meita tak lagi peduli. Ia merasa telah menemukan dunia baru yang jauh berbeda dengan kehidupannya selama ini. Tak ada rasa malu di hatinya ketika bergaul dengan anak-anak punk di lingkungan yang kumuh. Ia juga tak malu mengikuti Dikas menjajakan suara atau nongkrong di jalanan. Malahan ia sangat menikmati, bahkan merasa takjub.
Di sisi lain, mama Meita mulai kelabakan. Nilai Meita yang kian hari kian anjlog. Ia datangkan banyak guru les privat ke rumah. Beragam buku soal dibelinya agar bisa dijejalkan di otak Meita. Tak lupa, berbagai produk suplement dibelinya dengan harapan, Meita bisa kembali pintar seperti iklan-iklan menggiurkan yang ditawarkan di televisi. Namun justru itu membuat Meita jengah dan sulit menghela nafas. Sampai akhirnya, pada suatu malam, Meita benar-benar tidak tahan dan memutuskan kabur dari rumah.
Tak terbayangkan di benak Meita sebelumnya. Barangkali juga tak ada seorangpun yang menyangka bahwa dulunya ia adalah seorang bintang kelas. Kini, penampilannya berubah drastis, dengan dandanan ala punk, seperti teman-temannya. Namun Meita sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Ia mendapatkan kebebasan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Tak ada yang bisa mengekangnya lagi. Walaupun sebagai konsekwensi, ia harus menjalani kehidupan yang keras dan serba tak pasti.
Selama ada Dikas, Meita tetap merasa aman. Dikas selalu melindunginya. Tak cuma itu, meski dandanannya sangar, teman-teman Dikas ternyata memiliki rasa solidaritas tinggi. Mungkin karena kebanyakan berangkat dari persamaan nasib dan latar belakang. Seperti Meita, mereka memiliki masalah keluarga yang cukup pelik sehingga jalanan menjadi tempat pelarian.
Hujan tak sederas tadi. Gang sempit tempat Dikas terkapar kembali diramaikan lalu-lalang orang. Tak ada seorangpun yang mempedulikannya. Meita sendiri sibuk dengan pikirannya, siapa yang telah membunuh Dikas? Mengapa harus dibunuh? Meita mencoba mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Dikas. Siang tadi ia pamit pergi ke tempat aborsi untuk menggugurkan janin yang telah tiga bulan bersarang di perutnya. Namun, sore hari, sekembalinya Meita, ia mendapati Dikas telah penuh luka.
Berjam-jam Meita terpaku mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Namun tak satupun petunjuk didapatnya. Dengan perasaan kalut dan tatapan kosong, Meita beranjak meninggalkan jasad Dikas sendirian. Ia melangkah gontai. Menyusuri tiap jengkal trotoar yang penuh sampah. Sesekali ia melirik ke sudut-sudut pertokoan, berharap menemukan sebutir nasi untuk mengganjal perutnya. Sejak pagi ia tak makan. Beberapa hari yang lalu ia berhasil mencopet dompet seorang mahasiswi. Tapi rasa bersalah terus memburunya hingga kini. Ingin mengamen pun rasanya tak mungkin. Kondisi tubuhnya sedang tak bisa diajak kompromi.
Meita duduk di tepi trotoar, dekat lampu merah. Diperhatikannya anak-anak kecil berpakaian lusuh. Singgah dari satu mobil ke mobil lain sembari menengadahkan tangan. Begitu polosnya mereka. Ia teringat nasibnya sendiri. Sejak kecil ia tak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Segalanya dilakukan atas perintah sang mama. Meitapun melempar pandang ke seberang jalan, di sebuah rumah makan padang. Perutnya kembali perih. Berkali-kali ditelannya ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Namun dahaganya tak kunjung reda bahkan perutnya kian melilit.
Secara tak sengaja, Meita melirik televisi yang terpasang di rumah makan itu. Meski pandangannya mulai kabur, dari jarak yang cukup dekat ia masih dapat melihat sosok yang ada dalam tayangan di televisi. Apalagi sosok itu begitu dikenalnya. Seorang wanita paruh baya, mengenakan blezer hitam, duduk di samping seorang pembawa acara. Air matanya berderai. Di tangan wanita itu terpampang sebuah foto besar. Foto Meita.
Meita mengepaklan kedua tangannya. Matanya memerah. Darahnya berdesir naik. Amarahnya memuncak melihat wajah wanita itu. Kenangan masa lalu berkelebat memenuhi benaknya. Ingin ia ledakkan semua kata yang menggumpal bertahun-tahun di dalam dada dan membuatnya sesak. Namun lagi-lagi gigil mengurung tubuhnya. Hanya giginya gemeletuk geram. Dan air mata meluncur jatuh dalam genangan air, menghiasi trotoar.
Hujan masih menyisakan sedikit gerimis. Meita bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan dengan langkah terseret . Tubuhnya sedikit oleng ketika rasa nyeri kembali menusuk perutnya. Bukan hanya sekedar lapar. Tadi siang, peralatan aborsi telah mengobrak-abrik rahimnya. Entah, apakah janin dalam kandungannya masih bernyawa atau tidak sekarang. Ia keburu kabur sebelum janin itu berhasil dikeluarkan. Ada rasa bersalah di hati kecilnya. Ia tak ingin nasib yang sama menimpa anaknya kelak. Jika kandungannya selamat, ia berjanji akan merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Terlebih, setelah Dikas meninggal, anak itulah yang akan menjadi satu-satunya kenangan bagi Meita, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, ia dapat merasakan kebahagiaan. Meski, belum terpikir di benak Meita bagaimana dan dengan cara apa ia membesarkan anak itu nanti.
Meita masih terus berjalan menyusuri trotoar, menyibak tempias lampu jalanan. Ia tak tau harus pergi ke mana. Yang jelas ia tak akan pulang. Tak akan pernah pulang!
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar