Minggu, 11 Desember 2011

Rindu Betutu

Sinar matahari tajam menembus celah jendela. Meski begitu aku masih enggan meninggalkan selimut. Entah kenapa, rasanya mataku ini sulit sekali dibuka. Beberapa waktu lalu, Gusti telah berusaha membangunkanku, tapi agaknya ia menyerah. Kini, aku tak lagi mendengar suara berisik dari kamar sebelah. Kurasa ia telah memutuskan berangkat sendiri ke pura, tanpa aku.
Beberapa hari ini, kami memang disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk menyambut Nyepi. Salah satunya mempersiapkan ogoh-ogoh, sebuah boneka raksasa berwajah menyeramkan yang merupakan lambang dari sifat buruk manusia. Pada upacara Pangrupukan nanti, tepatnya sehari sebelum Nyepi, kami akan mengaraknya. Setelah itu ogoh-ogoh akan dibakar, sebagai pertanda dimusnahkannya kekuatan jahat.
Dahulu, ritual semacam ini sangat kunantikan sepanjang tahun. Namun semenjak aku merantau ke Yogya, semuanya jadi terasa hambar. Di sini, nuansa Nyepi tak sekental ketika di Bali. Mungkin itulah yang membuatku tak begitu antusias menyambutnya.
Sebenarnya aku ingin sekali pulang. Hari-hari berlalu begitu saja di Yogya, dan aku mulai jenuh. Ah, padahal inilah yang dulu sangat kuimpikan. Menjelajah kota penuh sejarah. Menjadi bagian dari universitas yang konon telah banyak mencetak orang-orang hebat di negeri ini. Aku masih ingat bagaimana akhirnya kedua orangtuaku merelakanku pergi ke Yogya. Kala itu tiada hari tanpa merayu. Kusuap ibuku dengan janji manis. Kuimingi-imingi bapakku dengan cerita tentang kesuksesan kawan-kawanku yang telah lebih dulu merantau ke Jawa, baik yang masih kuliah maupun bekerja.
Kini keinginanku itu terwujud. Lima tahun sudah aku berada di Yogya. Tahun-tahun pertama kulewati dengan penuh kegembiraan. Aku banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman baruku dan berbagai kegiatan kampus. Tahun berikutnya aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, namun aku masih menikmatinya. Menginjak semester lima, aku mulai kewalahan dengan tugas-tugasku yang membanjir tanpa henti. Semua bertumpuk di meja. Hampir tak ada jeda untukku bernafas. Menjelang semester akhir, aku benar-benar merasa jenuh. Banyak tugasku yang terbengkalai. Akupun jadi jarang masuk kuliah. Bahkan pernah sampai berbulan-bulan. Surat peringatan dari kampus beberapa kali kuterima, namun tak kuindahkan. Sampai akhirnya aku mendapat surat terakhir yang membuatku sangat terpukul. Aku di Drop out!
Berhari-hari aku memikirkannya. Aku sangat takut, tak sampai hati mengabarkan berita buruk ini pada orangtuaku. Apalagi wisuda tinggal sebentar lagi. Tentu mereka akan sangat kecewa jika tahu aku gagal menjadi sarjana. Akhirnya tercetuslah sebuah ide. Kebetulan sekali, ibu mengatakan lewat telepon bahwa ia tak dapat menghadiri acara wisuda. Ia harus menjaga ayah yang sedang opname di rumah sakit karena operasi usus buntu. Sedangkan adik-adikku masih sangat kecil, tak mungkin ditinggal sendiri.
Aku meyakinkan ibu, itu bukanlah masalah bagiku. Banyak juga teman-teman yang tidak didampingi keluarganya. Tapi aku berjanji akan mengirimkan foto-foto wisudaku nanti.
Aku menyesal telah mengatakannya. Tapi apa boleh buat. Aku terlanjur berbohong, terpaksa harus menutupnya dengan kebohongan lagi. Akupun meminta tolong seorang teman untuk memotretku dengan mengenakan toga yang sengaja kupinjam dari kawan. Aku juga memintanya untuk mengedit fotoku agar nampak seperti berada dalam suasana wisuda. Kukirimkan foto-foto itu, dengan bebagai pose, ke rumah. Begitu sampai, ayah dan ibu langsung menelpon. Tak ada nada curiga. Malahan mereka sangat gembira dan tak sabar menungguku pulang. Aku semakin merasa bersalah. Kukatakan, aku belum bisa pulang karena di sini aku telah mendapat pekerjaan.
Setahun telah berlalu sejak kejadian itu. Aku selalu mengelak tiap kali diminta pulang. Mereka tak boleh tau kenyataan bahwa aku telah di DO. Atau paling tidak, aku akan memberitahukannya, nanti, setelah aku sukses mendapat pekerjaan di sini. Dengan begitu, paling tidak ada sedikit penawar bagi orangtuaku yang kecewa karena aku gagal menyandang gelar sarjana. Sayangnya, mencari pekerjaan tak semudah yang aku bayangkan. Sampai sekarangpun aku belum juga memperoleh pekerjaan. Untunglah, ayah masih sering mengirimiku uang. Sehingga kebutuhanku sehari-hari masih dapat terpenuhi, meski seadanya, karena aku tak berani meminta.
*****
Menjelang sore, perasaanku semakin galau. Di saat teman-temanku, sesama perantau Bali sedang asyik menyiapkan ogoh-ogoh, seharian aku hanya terdiam di kamar, menyaksikan televisi. Berkali-kali kuganti chanel, tayangannya tetap seragam. Kebanyakan mengulas serba-serbi perayaan Nyepi di Bali yang jatuh seminggu lagi. Aku semakin rindu saja pada kampung halaman.
Di layar kaca, nampak seorang koki sedang mendemonstrasikan cara membuat ayam betutu. Tak terasa, liurku pun terbit. Berkali-kali kudorong menuju kerongkongan. Ayam betutu memang makanan favoritku ketika masih di Bali. Dulu ibu sering membuatkannya untukku. Hidangan itu tak pernah absen di meja makan,khususnya saat ada hari istimewa. Aku masih ingat, terakhir kali aku menyantapnya. Tepatnya setahun lalu, saat aku pulang. Ibu langsung menyambutku dengan sepiring ayam betutu besar spesial buatannya. Masih terbayang, lembutnya daging menari-nari di lidahku. Bumbu pedasnya sungguh tiada dua.
Namun semenjak tinggal di Yogya aku justru jarang memakan ayam betutu. Pernah dua kali, itupun Gusti yang mentraktirku. Bukannya tidak enak, namun rasanya memang jauh berbeda. Pokoknya tak ada yang senikmat betutu buatan ibuku.
Khusus hari ini aku tak peduli. Aku hanya ingin menyantapnya. Mungkin dengan begitu, rasa rinduku kepada Bali dan keluarga akan sedikit terobati.
Segera kuraih jaket yang tergantung di balik pintu. Kukeluarkan motorku dari garasi. Aku bergegas menuju rumah makan yang konon menjual ayam betutu terenak di Yogya. Namun baru separuh perjalanan, rintik hujan mulai menetes. Jalan yang kulalu perlahan basah. Begitu pula tubuhku. Beberapa pengendara motor di depanku memilih menepi. Kulihat ada pula yang telah sibuk mengenakan jas hujannya. Aku tetap melaju kencang. Tak terpikir di benakku untuk berteduh meski hujan semakin deras dan tempat yang kutuju masih cukup jauh.
Sayang, perjuanganku menembus hujan itu akhirnya berujung kekecewaan. Ayam betutu yang kuidam-idamkan hanya bisa kupandang dari baliho di depan rumah makan. Pintunya tertutup rapat. Padahal biasanya rumah makan itu ramai dikunjungi pembeli, kini nampak sepi. Aku diam sejenak sebelum akhirnya tersadar, tak ada gunanya aku berlama-lama disitu. Akupun memutuskan untuk membalikkan motorku. Pulang.
Sepanjang perjalanan pikiranku kacau. Keinginanku untuk menyantap ayam betutu tak tertahan. Aku tak tahu dimana lagi harus mencarinya. Lagipula tubuhku mulai menggigil kedinginan. Seandainya saja, aku ada di rumah. Tentu aku tak perlu susah payah begini demi mendapatkan ayam betutu. Dengan senang hati ibu akan membuatkannya untukku.
Aku tiba di kosku. Darahku berdesir naik. Aku mendapati pintu kamar tak terkunci. Apa jangan-jangan aku lupa menguncinya tadi? Ketakutan segera menyergapku. Kulirik kanan dan kiriku, sepi. Gusti yang kamarnya bersebelahan denganku belum juga pulang. Ia pasti masih sibuk di pura. Sementara tiga penghuni kos lain adalah angkatan baru, biasanya jam-jam ini mereka masih sibuk dengan kegiatan kampus. Itu artinya tak ada seorangpun menjaga kos ini saat aku pergi tadi. Apa mungkin ada pencuri masuk?
Dengan hati bimbang, kuberanikan diri membuka pintu kamar. Aku terkejut. Mataku langsung tertuju di sudut kamar. Lidahku tiba-tiba saja kelu.
“ Ibu?! “ kataku gugup.
Dengan tenang ibu berjalan mendekatiku. Rupanya tak hanya ibu yang datang, ayah dan dua adikku pun ikut serta. Adik-adikku yang masih kelas dua SD segera berlarian menghampiriku dan menarik-narik kemejaku, berebut minta perhatian. Sementara aku masih terpaku.
“Eee..., ke..kenapa tidak bilang dulu, Bu, kalau mau ke sini?” aku berusaha menyembunyikan rasa gugupku.
“Untuk apa? Pasti kamu akan banyak alasan, seperti ketika ibu menyuruhmu pulang.”
Aku terdiam.
“Sudahlah, ibu sudah tahu semua. Gusti yang menceritakannya pada kami.”
“Jadi.?!” pekikku tak percaya.
“Semua sudah terjadi. Percuma jika ibu marah. Tapi seharusnya kamu tidak perlu berbohong pada kami.”
“Maafkan aku, Bu, Ayah. Aku tak ingin membuat kalian kecewa.”
Ibu tersenyum, “Pulanglah. Kamu bisa bekerja membantu pamanmu. Ia sering menanyakan, kapan kamu bisa pulang. Setahun terakhir dia kebanjiran order membuat patung untuk dikirim ke luar negeri. Bukankah waktu kecil dulu kamu pernah bilang ingin menjadi pematung seperti pamanmu? Pulanglah, dia pasti akan senang sekali menerimamu.”kata ibu.
Aku terhenyak sesaat. Hampir tak percaya aku pernah mengatakan itu. Namun ingatanku segera meluncur ke masa ketika aku masih duduk di bangku kelas satu SD. Dulu setiap akhir pekan aku sering mengunjungi pamanku. Rumahnya di daerah Gianyar, tak jauh dari tempatku tinggal saat masih di Bali. Beliau adalah pengusaha patung. Aku sering mengamatinya ketika membuat patung. Begitu tertariknya, tak jarang aku berusaha ingin membantu namun selalu dicegah oleh kedua orangtuaku. Alasannya karena waktu itu aku masih terlalu kecil. Akupun berujar pada mereka, suatu saat nanti, aku akan jadi pematung seperti pamanku. Sayang, itu hanyalah cita-cita masa kecil, yang terkubur seiring bertambahnya usia.
Air mata mulai meleleh di pipiku. Kupikir ibu akan marah mengetahui keadaanku sekarang. Anehnya aku sama sekali tak menangkap raut kemarahan di wajahnya. Matanya tetap teduh. Tangannya lembut membelai pipiku, tanda ia masih menyayangiku. Begitupun ayah, ia memang tak banyak bicara, namun aku tahu dari senyumnya yang terkembang, ia memaafkanku. Sementara dua adikku, sejak tadi berebut duduk di pangkuanku. Kurasa mereka sangat rindu. Begitupun aku. Dulu kami sering bercanda seharian. Kini, hampir lima tahun kami kehilangan masa-masa itu.
“Sudah-sudah, sekarang kita nikmati dulu. Ini, ibu bawakan betutu kesukaanmu,” kata ibu mencoba memecah keharuan. Dikeluarkannya sebuah kotak makan besar berisi ayam betutu. Iapun segera menatanya di piring.
Aku tercengang. Segera kupeluk ibuku dengan erat. Kurasa ia kaget dengan perlakuanku, namun aku tak peduli. Ia memang selalu mengerti keinginanku.
“Maafkan aku, Bu,” kataku sekali lagi dengan penuh penyesalan.
Kamipun segera menyantap betutu itu bersama-sama. Aku begitu lahap. Dengan cepat nasi di piringku ludes tak tersisa. Kedua orangtuaku hanya mampu menggelengkan kepala. Dalam hati aku merasa haru, aku sangat menyesal selama ini telah berbohong dan mengecewakan mereka.
Seusai makan, aku bergegas mengemasi pakaianku. Aku tak sabar ingin pulang besok. Aku sangat bahagia. Akhirnya tahun ini aku dapat merayakan Nyepi di kampung halaman bersama keluarga tercinta.

Maret 2011

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar