Jumat, 27 Januari 2012

Laptopku Sayang


Hari Jumat minggu lalu menjadi salah satu hari paling kelabu dalam hidupku. Laptopku nggak mau nyala  meski sudah dicolokin kabelnya dan dipencet-pencet tombol powernya. Seharian itu aku nggak bisa ngapa-ngapain. Nyawaku ada di laptop itu. Aku sempat minta pertolongan ke teman yang pinter ngutak-atik komputer. Kupikir hanya perlu instal ulang, tapi ternyata nggak berhasil. Keesokaannya kupriksakan laptop q itu ke BEC. Ternyata, kata mas tukang servis, ada masalah dengan VGAnya sehingga terpaksa harus diservis. Untunglah, laptopku masih bisa terselamatkan, hanya saja aku harus merelakan uang lima ratus ribu melayang karenanya. Ternyata masalahnya cukup sepele. Aku memakai u-buntu dan windows 7 sekaligus. Apalagi u-buntu sebenarnya nggak cocok diinstal di laptop, terlalu berat. Kapasitasnya nggak sememadahi mac atau PC. Hiks, seandainya aku tahu dari dulu, semua ini takkan terjadi. Tapi nggak papa, ini pelajaran berharga. Buat yang belum nyoba, jangan pernah coba di rumah ya.!

Kamis, 19 Januari 2012

Menjelajah Kota Tua, Braga


Menjelajah Bandung memang nggak pernah ada habisnya. Berawal dari rasa ‘kagol’ dengan tugas  kuliah yang nggak juga kelar, padahal udah seharian mantengin laptop, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Jalan-jalan kali ini beneran dalam arti sebenarnya! Bayangkan, dari daerah Tamansari sampai jl. Asia Afrika sama sekali kami tak menyentuh angkot dan hanya mengandalkan kedua kaki kami untuk melangkah. Kalau dikira-kira, untuk sampai ke tempat tujuan kami menempuh waktu sekitar 1 jam lebih, itu belum dihitung perjalanan pulangnya loh. Tapi entah kenapa gak ada rasa capek. Setidaknya nggak secapek perjalanan ke kampus (padahal waktu tempuh kontrakan-kampus  hanya sekitar 15 menit).  Mungkin karena kami hanya ingin menikmati pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan, tidak memusingkan tujuan, akan berhenti di mana atau sudah berapa lama kami berjalan. Percaya atau tidak, sampai di tengah perjalananpun kami masih tidak tahu akan pergi ke mana. Sampai akhirnya kami teringat kota tua yang lama ingin kami kunjungi namun belum kesampaian, Braga. Kubayangkan, kota ini seperti Champs Ellysess-nya Bandung. Sepanjang jalan berderet toko, butik, cafe dan toko-toko lukisan. Dan benar saja, berada di sana rasanya sepeti tersesat di Eropa saja. Bentuk bangunannya mirip bangunan-bangunan Eropa. Bagus deh! Nggak heran tayangan televisi pernah mengambil setting di tempat itu, antara lain iklan SCTV yang jadul bangeett.. Kalau yang terbaru iklannya XL, diperankan Atiqah Hasiholan. Setelah puas melihat-lihat (hanya melihat, karena harga-harga disana pastinya selangit), kamipun melanjutkan perjalanan ke Jl. Asia Afrika, tinggal lurus saja dari Braga. Di situ terdapat gedung-gedung tua, salah satu diantaranya gedung Asia-Afrika yang merupakan tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika. Kebetulan saat itu sedang diadakan pameran “Perjalanan 50 tahun gerakan non blok”. Kami bisa masuk secara cuma-cuma. Di sana kami bertemu Sukarno dan petinggi-petinggi negara lainnya. Sungguh sebuah wisata sejarah yang mengasyikan. Sekali waktu cobalah berwisata ala kami. Hanya dengan modal 0 rupiah, bisa mendapatkan banyak pengalaman berharga. Jangan sampai lupa ya, bawa kamera untuk mengabadikan momentmu. Karena itu yang akan menjadi cenderamata untuk dipamerin ke temen-temen atau bernarsis ria di FB. Selamat mencoba!

Rabu, 11 Januari 2012

Tentang Pelangi Kecilku

Aku membaca senja yang hilang di matamu
Siapa sembunyikan tarian tujuh rupa bidadari?

Sekeping mozaik diasingkan waktu
Pelangi kecilku meniup tujuh cahaya lilin
Itulah tonggak habisnya segala pelita jiwa
Adalah sekedar dalih darah yang mengaliri nadi
Sebab hulunya telah ditanam benci
Dua pasang mata dulu singgah dalam bahtera
Pelangi kecilku bertanya:
Apakah detak yang mereka cipta bagian dari prosesi
dan bukan pernyataan cinta?

Masih lekat semalam ibunda berbisik
mantera manis bungabunga mimpi
Selalu
Ia latah di akhir kisah
“Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya”

Rupanya dinding mulai jemu mengendapkan  kebohongan
Dinihari retak menyemburkan lukaluka karatan
Angin sibuk merekam makian
Embun saling bentur berdenting
jatuh di kelopak yang terpejam ketakutan

Pelangi kecilku menepi di sudut rumah kematiannya
demi tak ingin lagi melihat kasih sayang
demi tak mau dengar ketukan ayah ibu pulang
Katanya:
Pagi ini aku terbangun dan kudapati jejak kaki
mengarah pada dua belantara berbeda
Aku adalah anak yang lahir dari tekateki
dan akan tetap tumbuh bersamanya!

Kekasih
Aku tiba di depan pintu yang kau pagari
Sungguh
Takkan kutinggalkan engkau hanya karena itu
Sebab nestapa telah tersemat layaknya cincin di jari manis kita

 2009

Sepotong Kayu


Sepotong kayu kau lukai dengan paku. Di punggungnya kau tata aneka hidangan. Ia menyaksikan keserakahanmu. Sembari cemas berharap. Semoga ayam yang tengah kau lahap. Bukan karibnya di kebun dulu.
Beberapa kau jajar di muka rumah. Supaya jelas batas wilayah. Lalu kau  tidur nyenyak. Sementara rasa bersalah mengusiknya siang malam. Barangkali burung-burung sedang bingung mendapati rumahnya hilang.
Sepotong lagi kau pasung dekat pintu. Layu. Mendekap tubuh anak istrimu. Senyum kalian membuatnya kian luka. Diam-diam  diimpikannya. Pulang.
Bertemu lagi dengan daun dan akar

(Maret 2010)

Dunia Bisu 2


Belum pernah Malioboro kurasa seindah ini

Depan pasar Klithikan:
Debu-debu mengkristalkan rindu. Tumpahkanlah dari bejana hatimu. Aku berdiri di sini untukmu

Sepanjang Malioboro:
Aku penari. Tanpa gemerincing gelang dan selendang. Hanya debar menjadi irama. Rona merah terpulas sempurna di muka. Tarianku adalah langkah kakimu. Dalam gemulai jemari, kutarikan kata hati. Tersembunyi tanpa kau tau. Gedung dingin melirikmu cemburu. Wahai lelaki, hendak kau culikk ke mana gadis kami?

Vedebrug:
Kau masih pelangi. Meski tanpa gerimis dan senja telah lewat. Di antara berjuta jiwa, kucari lagi binarnmu. Ketemu! Berbatas tipis di garis mimpi. Kau lelaki, kenapa tertunduk malu? Nikmati saja gejolak jiwa dan debarannya. Lelaplah dalam euforia tanpa kata. Dunia bisu tetap milik kita.

Depan BI seperti biasa:
Jam waktu yang menggantung di dinding langit berkali berisyarat. Siap menghujamkan perisai kedua di antara kita. Tak jerakah kau tanggung sesal setahun? Sekarang untuk entah. Meski panas meranggas sukma, dan tubuh di lumpuh malu, tak jugakah ingin kau ungkap kata yang tersembunyi dari balik gelisahmu?

Pada akhirnya di ujung penantian terlama:
Lampu-lampu kota menjalma cahaya malaikat. Tanpa kedipan menyaksikan tangan kita bersentuhan. Lembut tanganmu dan dinginnya logam. Kudekap liontinmu di dada. Kita berbalik muka, beradu punggung. Tanpa mampu kuhitung satu detikpun. Tanpa mata bertautan. Tanpa kau tau butir kaca tersudut di kelopakku. Terbayar lunas segala luka. Tertembus katup relung rindu dan ragu. Terjawab semua tanya.

Lalu seketika kita terjebak dalam dejavu masa lalu. Dewa yang berkuasa atasmu. Kau pelangi. Maka kewajibanku menyaksikanmu pergi. Ya, secepat ini. Aku menengadah. Mengharap sinarmu kembali melengkung di langit kotaku

(Juni 2009)

Narasi Laut


Cahaya jatuh tanpa sisakan bayang
Kami tiba di negeri dongeng,
Sebuah negeri yang pernah moyang tuturkan
lewat  aroma hutan masa silam
Kaki menyentuh langit
Angin pecah di dada
 tak pelak
membuncahkan rasa yang telah bemukim lama

Kau percaya
tak ada jarak yang menjadi jarak
Dalam sebuah prosesi
aku menyaksikan
Laut mengharu biru  dipeluk gunung
Layaknya rindu menahun
yang musti dituntaskan
usai pengembaraan jauh
Dengan kesetiaan abadi
ombak mengikis keangkuhan
Awan rebah di atas pepasir basah
lebur bersama tarian ikan-ikan kecil
menjadi buih
 memercik di tubuhku
Lantas,
kenapa tidak
kubentang layar
Mendayung seiring doa-doa panjang
Suatu hari
perahuku
akan tiba
di hatimu

(Yogya, juni 2010)