Sabtu, 11 Agustus 2012

Ladang Tebu


Dari surau nan jauh
Sayup adzan luruh mengatupkan tubuh
Di atas hamparan tanah berjelaga
Mencari muasal lengking suara
Hilang gerisik dedaun tebu
Kawan angin bermain-main
Teman senja merumahkan beburung liar
Di lengannya yang lebam
Aku mulai paham bahasa sunyi
Tentang mimpi-mimpi buruk itu
Yang selalu menjelma diri
Seperti cakar
menembus celah belukar dan perdu rerumputan

Telah kubaca riwayat luka yang kau tulis
pada barisan pohon jati di atas bukit
sepenggal demi sepenggal nafas terhempas
tanpa sempat kau urai manis
yang kau rawat sepanjang musim

Kini aku mengerti
mengapa engkau selalu menghitung tiap detik pertemuan
daun rentamu tengadah
mengeja cinta dan nasib di lubuk langit  
sementara aku tak hirau, gagal membaca risau
Kutimbun malammu dengan cerita
betapa gigih aku belajar menjadi purnama
Sebab ingin kupersembahkan padamu
 gaun pengantin keperakkan
Yang akan kau kenakan
bila tiba pesta cahaya

Di pucuk malam
Kupoles altar dengan kilau
 aku menjemputmu
Namun getir merebak
Dingin menusuk
Aku tersirap melihat tubuhmu rebah
Di usung tandu, kian jauh
menuju tempat tanpa beralamat

Agustus 2010 

Hujan di Pucuk Malam


Sajak ini kutulis di antara gigil jemari digerogoti sepi
Ketika pucuk hujan menjelma taring
rakus mengoyak jantung
Aku menukar kenangan dengan tubuhku di cermin
nyata, jantung ini telah terburai
sisakan rongga pekat
sepeti langit
menelan warna
Di luar, air rebah bertubi-tubi
menghantam lorong ingatan
Sia-sia kusimpan bayang
 mengental di kedua bola mata
gamang kutatap
 laju kereta di stasiun kelabu
Aku tau tak ada tempat bagi sepotong surga
yang  kubangun sendiri dari tempias hujan dan tanah basah

Angin pecah di dada
Petir menguntit seperti maut
Kupungut detik-detik yang gugur dan mengering
Berharap lahir cerita
Yang belum tuntas
kau dongengkan
Malam begitu mencekam
Bayang-bayang bertingkah dalam benak
mengurai duka tak kunjung reda
Tangan biru memburu genggam
Aku terjaga
Gemetar
 meraba beku waktu
mencari detakku

2010



Euforia Hujan


Kak,
Hari ini aku datang
tanpa sempat memberitahu
Membuat repot jalan raya,
mendadak bingung mau berteduh ke mana
Genting gaduh, serupa perasaan
musti cepat mengemasi segala urusan
 Kupikir sekali waktu perlu pula, kutandaskan wajahku
di bukubuku anak sekolah
di seragam yang baru kemarin selesai dicuci
agar kelak mereka mengenangku
sebagai puisi

Kak,
Sekalipun nanti matahari akan marah
karena cahayanya kutebas hingga patah
Biarlah hari ini aku egois
Sebab rindu tak lagi terbendung
untuk sampai  padamu

(ngomongngomong lucu sekali,
sepanjang jalan kudengar orang menggunjing sengit
tentang langit salah musim
Sementara yang kujatuhkan adalah doadoa mereka
yang sempat menumpuk di ruang tunggu)

Kuingat bagaimana kau
mengusik debu kemarau yang lekat di jendela,
dengan goresan angkaangka kalender
Di sekat seberang kau bayangkan aku datang merapat
Dirimu yang lain berlari riang menangkap kenangan,
meski selalu tergelincir dari kedua tangan yang kau tengadahkan
Seperti itulah aku  ingin memulangkanmu
Dalam genangan, muara segala rindu

Namun, Kak
Diamdiam aku harus pergi
setelah mengirim ricik nakal di matamu
 Lalu tubuhmu rebah memucat,
Kutanggalkan jejak cinta pada lekuk jarijarimu

(Nopember 2009)

Surat Nawang Wulan


Telah kutemukan selendangku
di lumbung padi yang lama kehilangan
 bau periuk dan alu

Oh, aku lupa bagaimana cara terbang
Metropolitan mengajariku 
menghitung ketukan high hills
sehingga jelas
kapan waktu mengangkat pinggul
kapan boleh menoreh senyum 

Majalah trend mendikte   
warna baju hingga lipstik yang harus kupakai
 Sampai tak kukenal lagi diri
karna topeng di wajahku kian paten

Aku memuja dewi kecantikan
yang bersemayam dalam cermin
Kurapal mantra-mantra pengundang decak kagum
agar lelaki  bertekuk lutut
dan  nestapa tak lagi menguntit di antara lilit perut

Jaka Tarub telah durjana
mengungkap rahasia para dewa
Kini ia rasakan sendiri
bagaimana melerai nasib
menggantung hidup pada cerobong asap pabrik,
yang menjadikan kepala
serupa mesin-mesin penggerus nurani

Di persimpangan kami mantapkan langkah
demi menukar uang dengan angan
Meski tetap terlampau miskin
bagi kami membeli harga diri

Kepada anakku
yang selalu rindu bahasa ibu
Kutitipkan degup jantung

pada moleknya pendar rembulan di layar kaca
Beradu hiruk pikuk peristiwa
dan dentum lagu pop merajam tanpa jeda

Dengan gemerlap lampu-lampu
manusia amat lihai menyulap setiap malam menjadi purnama
Kami senantiasa berpesta atas kemenangan kami memenggal sepi
Berenang dalam genangan berahi
di bekas telaga
yang kini ditumbuhi beton-beton raksasa
  

Sungguh,
aku tak mau pulang
sebab di sinilah nirwana

( Mei 2010)

Rembang


Telah habis serbuk laras berkabar sukacita pada debu sebatang kara
Dan manis menemukan persemayaman terakhirnya
Hendak ada upacara turun tahta
Paman dikerahkan
Dia yang punya terik dan letih
Membabat bakal gula bukan miliknya

Pasukan merah putih kecil menyerbu medan laga
Tawar menawar perasaan
Menanam khianat di hati mungilnya
Batang tebu sujud sujud di kaki
Aduhai, tentu minta dibawa lari
Sabar mengharap lena pak tua telanjang dada
Kantung ilmu jadi diisi hasil mencuri
Rambut merah disengat jemari matahari
Pantat merah diupah emak
Namun bocah tetap kembali 
Tanpa lelah mengawal cakrawala mencari sudut bumi

Lalu tebutebu meneruskan perjalanan
Menjejaklah kami,
Kehidupan baru

Agustus 2009 

Jumat, 10 Agustus 2012

Kalau hujan reda


Capung yang melintas siang tadi
terhuyung murung
“Matahari basah kuyup lalu pingsan
setelah banjir menyapu negerinya!”
Pantas awan mengerak
air mulai berloncatan di kakiku
Ah, emak lupa angkat jemuran
Bapak tak pulang sejak pamit ke pulau seberang

Muka pintu berembun enggan terkatup
Telungkup mata di atas sepasang lutut
Air meriap di dada
Kalau hujan reda,
Aku ingin punya candikala
seperti gambar di kalender
kupinang serumpun alang-alang
bunga adalah altar
dan saksi bagi utusan langit yang datang bertandang
                               

Walet berwajah pucat berteduh di balkon tetangga
Di sudut laba-laba menggigil, memintal benang terakhir
Bibirnya berucap putus asa ” Bagaimana menyulam baju hangat?”
Sekeping logam dalam cawan kelelahan mengukur jalan
Atap kardus menyerah kalah di tengah pertikaian


Laron...laron
hati-hati bangun rumah
Cacing...cacing
Ini tanah sengketa
Katak...katak
Kasihan ya, tak punya sawah
Kupu,
Tunggu aku setelah hujan reda

Ranting, kaleng, tiang, puing kelebat berujud kelewang

Mak,
Aku berenang!
Gedung-gedung berjatuhan
seperti mainan yang kurobohkan kalau bosan!

(8 Desember 2009)