Sabtu, 20 Oktober 2012

Animation of The Month (Horton, Despicable Me,Rio, The Princess and Frog


Meski berkecimpung di dunia animasi, jujur saya tidak terlalu suka nonton film animasi. Alasannya, saya sudah cukup nek melihat proses pembuatan animasi yang sangat menguras tenaga, jiwa maupun raga. Sampai-sampai, bukannya menikmati film animasi yang saya tonton, yang terpikir di benak saya justru pertanyaan-pertanyaan teknis seperti berapa banyak gambar yang harus dihasilkan untuk membuat gerakan itu? Atau.., pasti butuh waktu lama untuk mengerjakan bacground sampai sedetail itu. Semua itu mengingatkan saya pada proses yang saya lalui sendiri ketika mengerjakan film. Akhirnya yang tersisa hanyalah rasa jengah. 
Tapi belum lama ini, berkat bujukan  teman, dengan terpaksa sayapun menonton film animasi. Saya tertarik dengan cerita yang diangkat yang kabarnya merupakan adaptasi dari buku dongeng anak. Judulnya Horton. Berkisah tentang seekor gajah yang menemukan sebuah kehidupan pada sebutir debu. Tak ada yang mempercayainya bahkan banyak yang menganggapnya gila. Namun Horton tak peduli. Ia berusaha menyelamatkan mahluk-mahluk yang ada dalam sebutir debu tersebut dengan mencarikan tempat yang aman dan terlindungi.
Yang menarik bagi saya adalah ide yang diangkat. Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa dalam sebutir debu  hidup ribuan makhluk yang tidak bisa saya bayangkan seberapa kecilnya.
Horton, Hears A Who!
Ide yang tak kalah unik berjudul Despicable Me. Adegan pertama dalam film ini langsung memikat hati saya. Seorang anak terjatuh diatas Piramida Mesir. Bukannya terluka, anak itu justru melambung tinggi ke udara. Ternyata piramida itu adalah piramida palsu yang terbuat dari balon plastik, sebab piramida yang asli telah dicuri. Tokoh utama dalam film ini memang seorang pencuri. Obsesi terbesarnya adalah mencuri bulan! Untuk itulah, ia berusaha mendapatkan alat pengecil untuk mengecilkan bulan. Berbagai cara ia lakukan untuk mencuri alat tersebut. Termasuk mengadopsi tiga orang anak. Ketiga orang anak itulah yang akhirnya merubah pandangan sang pencuri, mengenalkannya pada kasih sayang. Film ini banyak dibumbui adegan lucu dan menggemaskan. Ada juga karakter robot-robot kecil milik si pencuri. Meski karakternya sederhana namun penokohannya ‘dapet banget’! Kalau robot itu ada di dunia nyata, saya ingin sekali menggencetnya dengan kedua tangan saya karena mereka sangat menggemaskan.


Despicable Me

Film ketiga yang saya tonton berjudul Rio. Bercerita tentang seekor burung makau biru bernama Blue yang harus di bawa ke Brazil untuk dikawinkan dengan makau betina. Itu dilakukan demi melestrikan jenis burung tersebut yang sudah nyaris punah. Namun, ternyata banyak sekali rintangan yang harus dilalui seperti bertemu dengan pencuri atau blue yang harus terpisah dengan pemiliknya. Menonton film ini membuat saya teringat kata-kata dosen saya. Beliau mengatakan bahwa film yang baik harus bisa membuat orang tidak berkedip saat menontonnya. Dan itu yang saya temukan dalam film Rio. Setiap detik adegan tergarap dengan baik, adegan seru susul menyusul sehingga saya tidak punya kesempatan untuk merasa bosan. Setting lokasi juga tergarap menawan. Hutan tropis, pemukiman padat penduduk, lokasi wisata dan icon-icon yang ditampilkan membuat saya tak ingin berhenti menyelami keindahan kota Brazil. Belum lagi setting budaya. Bola, meski tak begitu banyak ditampilkan namun sudah cukup mewakili besarnya kecintaan masyarakat Brazil terhadap olahraga tersebut. Ada juga parade karnaval lengkap dengan tarian sambanya yang menjadi klimaks dari film ini. 
 
Rio
Film animasi terakhir yang saya tonton berjudul Princess and the Frog. Berbeda dari film-film yang saya sebutkan sebelumnya. Film garapan Disney ini masih mempertahankan tehnik 2D. Meski yang diangkat merupakan cerita klasik, namun bukan berarti tak ada kejutan di dalamnya. Film ini memang berbeda dari versi aslinya. Princess dalam film ini ternyata bukan seorang putri melainkan seorang pelayan restoran bernama Tiana. Ia punya mimpi besar ingin membuka restoran sendiri. Yang menarik adalah, ketika Tiana bertemu dengan katak dan menciumnya. Katak itu tidak menjelma menjadi pangeran. Justru Tianalah yang berubah menjadi katak. Di situlah petualangan mereka dimulai. Kedua katak tersebut berusaha kembali ke wujud asli mereka.
Meski animasi, dan banyak bicara tentang impian dan cita-cita, menurut saya film ini tidak begitu sesuai untuk anak. Banyak adegan ciuman yang sangat berbahaya jika sampai ditiru! Hmm.., kecuali kalau disensor, sih.
The Princess and The Frog

Jika anda tidak menyukai film animasi, setidaknya tontonlah film-film yang saya rekomendasikan di atas. Siapa tahu pandangan anda tentang animasi dapat berubah. Saya selalu merindukan tontonan film yang cerdas, dan menurut saya, film yang saya sebutkan diatas masuk dalam katagori tersebut. 

2 komentar: