Senin, 29 April 2013

Our Hysteria (:at Transtudio)



Happy weekend! Minggu kemarin bersama Totong, Vanny, dkk, kami liburan ke trans studio. (Akhirnya setelah setahun lebih di Bandung, guys!)  Ya, walaupun harus dibayar dengan ‘amat sangat’ mahal. Bayangin, harga teh kotak yang biasanya di supermarket hanya 2500, di sana dijual dengan harga 9000 rupiah per kotaknya!
 O iya, di sana kami mendapat sebuah kartu yang fungsinya kurang lebih mirip voucher pulsa gitu. Jika saldo habis, maka bisa diisi ulang di counter2 yang tersedia. Kartu itulah yang digunakan sebagai alat transaksi selama berada di dalam area trans studio, seperti membeli makanan atau cinderamata.
Okey, kartu sudah di tangan, isi tas telah disterilisasi dari makanan, bom, dan lain sebagainya. Saatnya menikmati wahana ‘pemanasan’. Dan kamu tau apa yang dimaksud dengan wahana ‘Pemanasan’ itu?? Jet Closter, dengan jalur yang ekstrimnya na’udzubilahimindzalik dan ketinggian yang tak sanggup terdefinisikan oleh kata-kata.  









Suasana menyenangkan yang kubayangkan seperti dalam liputan Jelang Siang di TV, dengan presenter yang tak henti mengumbar senyum kebahagiaan saat mencoba satu persatu wahana permainan, hancur seketika. Kenyataannya, saat ini aku tak jauh beda dengan pelaku kriminal yang digiring beramai-ramai menuju truk satpol (Aku tak bisa bayangkan betapa anarkisnya teman-teman memaksaku saat itu) Untunglah, setelah melewati serangkaian adegan dramatis dan sempat juga menjadi pusat perhatian, aku berhasil lolos.
Tak sampai 1 menit. Teman-teman yang semula ber-hahahihi menaiki jet closter maut itu kini kembali dengan tangan gemetaran dan wajah pucat pasi. Kini giliran aku yang terpingkal melihat mereka. Ketika kutanya pada Totong bagaimana rasanya?
“Seperti mau mati” jawabnya dengan tangan yang masih gemetaran.
“Ah, lebaaayyy!”  kataku, dan kembali terpingkal.

Jumat, 11 Januari 2013

Nasi Bancakan Bandung



Libur tahun baru kemarin aku nemeni Otong cari hape baru di Dukomsel. Selain BEC, Dukomsel merupakan pusat jual beli hape paling kumplit di bandung. Setelah muter-muter lebih dari 3jam, akhirnya dapat juga hp yang Otong inginkan.
Tinggal pertanggung jawaban kami pada rasa capek dan perut kelaparan. Kamipun berjalan sepanjang jalanmenuju gedung sate sambil memikirkan tempat makan di daerah itu. Tiba-tiba Otong teringat rekomend dari temannya,  ada sebuah tempat  makan yang katanya ‘Bandung banget’!
Belum sempat buka google map untuk mencari lokasi tempat tersebut, Otong mengajakku terus berjalan. Ternyata tak butuh banyak langkah, tempat yang dimaksud sangat dekat dengan tempat kami berdiri. Di depan terpampang tulisan besar “Nasi Bancakan”, yang merupakan nama tempat itu. Awalnya aku sudah curiga melihat banyak mobil yang diparkir. Dan benar saja, di depan pintu masuk kami telah disambut dengan antrian yang begitu panjang. Antrian yang langsung mengingatkanku pada pengantri tiket ‘breaking down part 3’ di BIP beberapa waktu lalu. Untunglah, ada Otong di depanku, kami bisa bercanda sehingga capek mengantri tidak terasa. Kami bahkan memanfaatkannya untuk  mengambil foto. Maklum, tempat itu memang cukup unik, apalagi untuk kami yang bukan asli bandung. 



Tips Melamar Pekerjaan ala Isyka



Waktu kecil, saya sering berpura-pura menjadi pekerja kantoran. Duduk di balik meja yang terbuat dari kardus mie. Kadang saya pura-pura jadi pedagang atau koki. Semua tergantung dari acara tv apa yang saya tonton sebelumnya. Bahkan saya pernah bercita-cita menjadi pelayan restoran hanya karena melihat peran salah satu aktris favorit saya dalam sinetron. Itu sangat keren.! Apalagi dalam sinetron tersebut, si pelayan restoran akhirnya berpacaran dengan bosnya sendiri yang kaya dan ganteng. Siapa yang nggak mau, coba.

Tapi sekarang saya menghadapi realita sesungguhnya. Berhadapan dengan begitu banyak pilihan pekerjaan yang dalam proses meraihnya tak semudah memainkan permainan saya waktu kecil. Bahkan IP baik, lulus dari universitas terkemuka. Pun tak menjamin seseorang untuk bisa segera mendapatkan pekerjaan. Belum lagi masalah idealisme yang kerap menjangkiti sarjana muda (Termasuk saya). Ya, kadang kita keukeh menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan, bahkan membuat list_setidaknya dalam ingatan_kriteria pekerjaan yang ideal menurut kita. Tapi ternyata kenyataan di lapangan tidak memungkinkan. Sementara kebutuhan akan pekerjaan sudah sangat mendesak.

So, daripada rambut beruban menunggu bintang jatuh mengabulkan permintaan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai keinginan, lebih baik membaca tips dibawah ini ^_^. Siapa tau dapat membawa anda pada pekerjaan impian.