Rabu, 30 Mei 2018

Review Film The Gift Hanung Bramantyo


Selama ini kita mengenal Hanung dengan film-filmnya yang komersil. Tapi lebih dari itu aku tau sebenarnya Hanung adalah sutradara yang idelis. Hanya saja idealisme itu seringkali terbentur oleh kepentingan banyak pihak. Entah produser, selera pasar, dan masih banyak faktor lain. Film ini membuktikan bahwa penantianku terhadap karya idealis hanung tidaklah sia-sia. Ia berhasil menunjukan siapa ia sebenarnya. Terlihat betul bagaimana Hanung menggarap film ini dengan sepenuh hati. Nggak berlebihan jika aku menyebut ini sebagai salah satu film terbaik yang pernah ia buat.

Hal pertama yang membuatku terpikat adalah sinematografinya. Jika selama ini kita mengenal puisi dalam bentuk tulisan. Film mampu menerjemahkan puisi dalam bentuk visual. Bagaimana hal-hal yang sebenarnya sederhana terlihat sangat puitis dibalik lensa kamera.

Dari segi cerita pun cukup menarik. Tapi aku nggak mau terlalu banyak spoiler di sini. Secara garis besar film ini menceritakan tentang seorang penulis bernama Tiana yang memutuskan untuk pergi ke Jogja untuk menyelesaikan novel terbarunya. Iapun ia bertemu dengan sang pemilik kos yang ia sewa bernama Harun yang ternyata seorang tunanetra. Dari situlah hubungan Tiana dan Harun dimulai. Kesamaan nasib membuat mereka saling terikat satu sama lain. Namun kemudian muncul Arie, sahabat masa kecil Tiana yang tiba-tiba melamar Tiana. Konflikpun dimulai. Jika kalian mengira ini kisah tentang  cinta segitiga. Hmm.. nggak sepenuhnya salah. Tapi ada hal yang lebih dari itu. Hal yang lebih mendalam. Walaupun endingnya nggak terlalu bikin aku kaget sih. Karena beberapa tahun lalu aku pernah menulis novel dengan cerita yang kurang lebih sama seperti ini. Bagiku daya tarik cerita film ini justru terletak pada awal-awal pertemuan Tiana dengan Harun. Juga bagaimana cerita tentang masa lalu Tiana yang kelam diurai perlahan. Justru bagian-bagian inilah yang bikin aku nggak bisa menahan air mata. Aku seperti melihat sosok Tiana dalam diriku sendiri beberapa tahun lalu. Yang memilih untuk menciptakan ‘realita’ sendiri untuk lari dari realita yang sebenarnya.


Untuk pemain, kayaknya nggak perlu diragukan lagi. Semuanya aktor dan aktris sudah sangat mumpuni di bidangnya. Harun,. Aku nggak bisa bayangin jika tokoh Harun, seorang tunanetra yang menutup diri dari dunia luar, temperamental dan keras kepala ini diperankan oleh orang lain. Pemilihan karakter Reza sebagai Harun udah paling tepat. Ayushita juga sangat cocok memerankan sosok Tiana, seorang novelis yang unik, aneh dan siapa sangka ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Begitupun dengan Dion Wiyoko sebagai Arie. Meski tidak seistimewa karakter Harun dan Tiana namun perannya pas. Belum lagi karakter-karakter figuran seperti simbok dan beberapa pembantu di rumah Harun yang tampak luwes dengan logat jawanya. Sepertinya mereka adalah pemain teater atau ketoprak yang memang udah punya jam terbang tinggi.

Biasanya aku cukup rewel jika ada film yang mengambil setting kota Jogja. Maklum aku orang Jogja asli, suka greget kalau ngelihat ada yang janggal dikit. Banyak film yang menjadikan Jogja cuma sekedar tempelan. Selebihnya tokohnya tetep aja ke Jakarta-Jakartaan. Paling cuma ngomongnya yang dimedhokin, itupun nggak enak didengar. Tapi kalau Hanung yang menggarapnya, aku nggak khawatir. Dari film-film sebelumnya ia selalu mampu menghadirkan Jogja yang apa adanya. Begitupun di film ini, atmosfir jogjanya sangat terasa sekaligus natural. Tentu karena Hanung memiliki latar belakang pernah tumbuh dan besar di kota ini.


Meski secara keseluruhan kualitas film ini diatas rata-rata, tapi aku nggak terlalu menggebu ingin merekomendasikan film ini ke semua orang. Karena di beberapa adegan terdapat unsur surealisnya, antara imajinasi Tiana dan realita. Beberapa part sengaja dibiarkan tidak diberi batasan secara gamblang. Bagi penonton yang tidak biasa dengan film semacam ini mungkin akan sedikit bingung. Tapi buatku sendiri, itu nggak masalah. Justru aku seneng karena film ini tidak seperti kebanyakan film konvensional yang terlalu memanjakan penonton, seolah segala sesuatu harus diceritakan dengan gamblang. Sebaliknya, film ini memberi ruang kepada penonton ikut berpikir, berimajinasi dan menginterpretasikan sendiri inti ceritanya. Sah-sah saja jika kemudian akan menimbulkan banyak tafsir.

Tapi untuk kalian yang satu selera denganku. Atau bosan dengan kisah drama yang dangkal dan itu-itu saja. Udah saatnya kalian harus nonton film ini. Ceritanya mendalam dan membekas di hati. Bagiku sendiri, rasanya nggak cukup nonton sekali doang. The Gift berhasil mengemas kesedihan dalam bentuk yang sangat indah dan puitis. Aku berharap Hanung bisa lebih banyak lagi membuat karya semacam ini ke depannya.

6 komentar:

  1. Sepertinya layak ditonton ya filmnya, Mba ;)

    BalasHapus
  2. Aku kayak mbak, suka cerita yg gak semuanya harus diuraikan dg gamblang. Tp, bgmna ada unsur2 yg penonton/pembaca dapat mngintepretasikan sendri sesuai imanjinasinya masing2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayangnya nggak banyak film indonesia yang begitu :-(

      Hapus
  3. jadi penasaran pengen nonton...

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuusss... mumpung masih ada di bioskop

      Hapus