Rabu, 10 Oktober 2012

Pelangi Jingga


Ini adalah karya novel pertama saya, yang saya tulis selama 3 tahun lebih (sempat vacum karena kesibukan di kampus) dan akhirnya dapat terbit tahun pada tahun 2010. Ilustrasi covernya saya buat sendiri. Dan... berikut ini sinopsisnya:
Jingga adalah seorang gadis manis berumur 17 tahun yang lucu, baik hati, dan periang. Ia punya begitu banyak teman yang menyayanginya. Di sekolah ia punya segudang prestasi dan selalu menjadi kebanggaan guru- guru dan orangtuanya. Mulai dari juara kelas, debat ini itu, sampai prestasi non akademis seperti modeling dan melukis. Diantara bakatnya yang lain melukis memang yang paling menonjol. Hidupnya nyaris sempurna, kelihatannya amat bahagia namun sebenarnya di hatinya menyimpan sebuah kesedihan yang amat mendalam.
Vincent, ia adalah sahabat karib di masa kecil Jingga, cinta pertamanya. Jingga dan Vincent harus terpisah karena Vincent harus pindah ke luar negeri. Sejak itulah Jingga selalu terobsesi untuk bertemu Vincent.


Suatu hari Jingga mendengar kabar bahwa Vincent akan kembali ke Indonesia. Ia bahkan sempat menghubungi Jingga dan mengajaknya bertemu di acara peresmian galeri milik Om Gangsar, papa Vincent. Malang nasib Jingga, ia mengalami kecelakaan di perjalanan menuju galeri. Vincent merasa marah dan kecewa karena Jingga tak juga datang. Ia pun kembali ke Perancis dan tak lagi memberi kabar pada Jingga.
Keinginan Jingga untuk bertemu Vincent makin besar. Sekeluarnya ia dari rumah sakit, ia mendengar kabar bahwa ada sebuah lomba lukis yang hadiahnya beasiswa untuk kuliah seni di Perancis. Dengan penuh semangat, ia pun memutuskan untuk mengikuti lomba itu. Keinginannya sempat ditentang oleh Ello, sahabatnya yang diam- diam jatuh cinta padanya. Hal itu membuat persahabatan Jingga dan Ello nyaris hancur.
            Tiba di hari perlombaan Jingga tak juga datang. Sesuatu telah terjadi padanya. Pandangannya mendadak kabur dan ia tak bisa melihat lagi.
Betapa terkejutnya Jingga dan keluarganya setelah mendengar vonis dokter bahwa ia buta. Rupanya benturan keras di pelipisnya pada saat kecelakaan beberapa waktu lalu, berpengaruh pada saraf matanya. Itulah yang menyebebabkannya buta.
Hidup Jingga mendadak berubah drastis. Ia tak bisa lagi melukis. Bahkan ia memutuskan keluar dari sekolahnya, padahal ujian tinggal 3 bulan lagi.
Di tengah kesedihan Jingga yang mendalam, Vincent memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dengan setia ia menemani dan menjaga Jingga. Jingga mulai bangkit dari keterpurukannya. Namun itu tak berlangsung lama. Akhirnya Vincent tahu bahwa ternyata ialah yang menyebabkan Jingga buta.


6 komentar:

  1. saya sudah bolak balik baca buku ini...ga' ada bosennya...salut buat iskya...:)

    BalasHapus
  2. Aku udah beli novelnya pas waktu bazar....r
    tapi halaman nya ngak lengkap dari halanman 145-151.... jadi ngak tau deh endingnya......

    BalasHapus
  3. aku ngefans bgt sama novel bikinan kaka :) aku suka ceritanya , kaka ada niat buat bikin novel lagi ga ??

    BalasHapus
  4. cerita-nya keren dan mengharukan. cuman, aku bingung, vincent kemana pas di endingnya?

    BalasHapus
  5. Ini novel pertama yg gaku baca dan gara-gara novel ini aku jadi seneng baca novel makasih kak isyka ^_^

    BalasHapus