Rabu, 11 Januari 2012

Dunia Bisu 2


Belum pernah Malioboro kurasa seindah ini

Depan pasar Klithikan:
Debu-debu mengkristalkan rindu. Tumpahkanlah dari bejana hatimu. Aku berdiri di sini untukmu

Sepanjang Malioboro:
Aku penari. Tanpa gemerincing gelang dan selendang. Hanya debar menjadi irama. Rona merah terpulas sempurna di muka. Tarianku adalah langkah kakimu. Dalam gemulai jemari, kutarikan kata hati. Tersembunyi tanpa kau tau. Gedung dingin melirikmu cemburu. Wahai lelaki, hendak kau culikk ke mana gadis kami?

Vedebrug:
Kau masih pelangi. Meski tanpa gerimis dan senja telah lewat. Di antara berjuta jiwa, kucari lagi binarnmu. Ketemu! Berbatas tipis di garis mimpi. Kau lelaki, kenapa tertunduk malu? Nikmati saja gejolak jiwa dan debarannya. Lelaplah dalam euforia tanpa kata. Dunia bisu tetap milik kita.

Depan BI seperti biasa:
Jam waktu yang menggantung di dinding langit berkali berisyarat. Siap menghujamkan perisai kedua di antara kita. Tak jerakah kau tanggung sesal setahun? Sekarang untuk entah. Meski panas meranggas sukma, dan tubuh di lumpuh malu, tak jugakah ingin kau ungkap kata yang tersembunyi dari balik gelisahmu?

Pada akhirnya di ujung penantian terlama:
Lampu-lampu kota menjalma cahaya malaikat. Tanpa kedipan menyaksikan tangan kita bersentuhan. Lembut tanganmu dan dinginnya logam. Kudekap liontinmu di dada. Kita berbalik muka, beradu punggung. Tanpa mampu kuhitung satu detikpun. Tanpa mata bertautan. Tanpa kau tau butir kaca tersudut di kelopakku. Terbayar lunas segala luka. Tertembus katup relung rindu dan ragu. Terjawab semua tanya.

Lalu seketika kita terjebak dalam dejavu masa lalu. Dewa yang berkuasa atasmu. Kau pelangi. Maka kewajibanku menyaksikanmu pergi. Ya, secepat ini. Aku menengadah. Mengharap sinarmu kembali melengkung di langit kotaku

(Juni 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar