Sabtu, 11 Agustus 2012

Euforia Hujan


Kak,
Hari ini aku datang
tanpa sempat memberitahu
Membuat repot jalan raya,
mendadak bingung mau berteduh ke mana
Genting gaduh, serupa perasaan
musti cepat mengemasi segala urusan
 Kupikir sekali waktu perlu pula, kutandaskan wajahku
di bukubuku anak sekolah
di seragam yang baru kemarin selesai dicuci
agar kelak mereka mengenangku
sebagai puisi

Kak,
Sekalipun nanti matahari akan marah
karena cahayanya kutebas hingga patah
Biarlah hari ini aku egois
Sebab rindu tak lagi terbendung
untuk sampai  padamu

(ngomongngomong lucu sekali,
sepanjang jalan kudengar orang menggunjing sengit
tentang langit salah musim
Sementara yang kujatuhkan adalah doadoa mereka
yang sempat menumpuk di ruang tunggu)

Kuingat bagaimana kau
mengusik debu kemarau yang lekat di jendela,
dengan goresan angkaangka kalender
Di sekat seberang kau bayangkan aku datang merapat
Dirimu yang lain berlari riang menangkap kenangan,
meski selalu tergelincir dari kedua tangan yang kau tengadahkan
Seperti itulah aku  ingin memulangkanmu
Dalam genangan, muara segala rindu

Namun, Kak
Diamdiam aku harus pergi
setelah mengirim ricik nakal di matamu
 Lalu tubuhmu rebah memucat,
Kutanggalkan jejak cinta pada lekuk jarijarimu

(Nopember 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar