Jumat, 10 Agustus 2012

Kalau hujan reda


Capung yang melintas siang tadi
terhuyung murung
“Matahari basah kuyup lalu pingsan
setelah banjir menyapu negerinya!”
Pantas awan mengerak
air mulai berloncatan di kakiku
Ah, emak lupa angkat jemuran
Bapak tak pulang sejak pamit ke pulau seberang

Muka pintu berembun enggan terkatup
Telungkup mata di atas sepasang lutut
Air meriap di dada
Kalau hujan reda,
Aku ingin punya candikala
seperti gambar di kalender
kupinang serumpun alang-alang
bunga adalah altar
dan saksi bagi utusan langit yang datang bertandang
                               

Walet berwajah pucat berteduh di balkon tetangga
Di sudut laba-laba menggigil, memintal benang terakhir
Bibirnya berucap putus asa ” Bagaimana menyulam baju hangat?”
Sekeping logam dalam cawan kelelahan mengukur jalan
Atap kardus menyerah kalah di tengah pertikaian


Laron...laron
hati-hati bangun rumah
Cacing...cacing
Ini tanah sengketa
Katak...katak
Kasihan ya, tak punya sawah
Kupu,
Tunggu aku setelah hujan reda

Ranting, kaleng, tiang, puing kelebat berujud kelewang

Mak,
Aku berenang!
Gedung-gedung berjatuhan
seperti mainan yang kurobohkan kalau bosan!

(8 Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar