Kamis, 04 Januari 2018

Review Ayat-Ayat Cinta 2

Greget banget, nih, pengen nulis review film Ayat-ayat Cinta 2. Bukan karena excited dengan filmnya tapi karena ini adalah film paling ngeselin sepanjang sejarah aku nonton di bioskop (Selain AADC 2 tentu saja). Dari  awal aku emang nggak terlalu berharap pada film ini. Ini jenis film untuk jualan  bukan film festival yang selalu bikin aku berekspektasi lebih. Berbekal cerita dari film Ayat-Ayat Cinta 1, akupun memutuskan untuk nonton sequelnya. Dalam benakku, ya kurang lebih akan sama seperti film pertamanya, lah. Ternyata eh ternyata, masih kalah jika dibanding dengan film pertamanya. Dan aku nggak menyangka juga ceritanya akan seabsurd ini.



Dalam film fantasi sekalipun, pembuat cerita dituntut mampu menghadirkan logika-logikanya sendiri untuk mendukung suatu adegan sehingga penonton bisa percaya dengan apa yang diceritakan. Sayang, aku nggak menemukan hal ini dalam film Ayat-Ayat Cinta 2. Banyak banget hal-hal nggak rasional dalam film ini, Sehingga walaupun ada adegan yang sangat dramatis dan menyedihkan tapi emosinya tidak sampai ke aku. Tidak ada satu adeganpun yang berhasil membuatku nangis (Padahal aku ini terkenal cengeng banget yang bisa nangis oleh hal-hal kecil).  Anehnya ada juga cewek yang nangis di sebelah aku pas adegan sedih. Rasanya jadi pengen ketawa, tapi aku tahan.

O iya, sebelumnya aku akan cerita synopsis singkat film ini. Bagi yang belum nonton, sebaiknya nggak usah baca. Kecuali kalian tipe orang yang justru penasaran kalau diceritakan alurnya sampe ending. Ini adalah lanjutan kisah dari Ayat-ayat cinta 1 tentang perjalanan kisah cinta Fahri dan Aisha. Aisha dikabarkan hilang ketika menjadi relawan di Palestina dan sampai saat ini belum ketemu. Sementara Fahri di tengah kesedihannya kehilangan Aisha tetap melanjutkan kehidupannya, bekerja sebagai pengajar di salah satu universitas di Edinburg, Skotlandia. Seperti halnya ayat-ayat Cinta 1, Fahri ini begitu digilai oleh wanita-wanita di sekelilingnya. Mulai dari mahasiswa bulenya (diperankan Millane Fernandez), karyawan mini market tempat ia bekerja, Hulya, keponakan Aisha (diperankan oleh Tatjana Saphira), Keira, tetangga Fahri yang diperankan Chelsea Islan, dan Sabina (Pembantu yang bekerja di rumah Fahri, diperankan oleh Dewi Sandra) Hampir semua cewek itu memiliki kesamaan, cantik dan agresif (Oh, God!)

Pada adegan-adegan awal, aku seperti sedang mendengarkan penjelasan guru PPKN. Pesan moral dijejalkan kepada penonton dengan sangat kentara. Karakter Fahri digambarkan sebagai sosok yang sempurna layaknya Nabi. Ia seperti superhero yang selalu menolong siapapun yang membutuhkan. Tidak peduli apapun suku, ras dan agamanya. Bahkan ia juga berbuat baik kepada orang yang telah jahat kepadanya. Nggak ada yang salah dengan berbuat baik.  Tapi yang ini udah ketinggian levelnya dan nggak masuk logika. Ia membantu Nenek Catarina, seorang Yahudi yang diusir dari rumah oleh anak tirinya sendiri. Fahri lalu membeli rumah yang telah dijual anak tirinya tersebut agar dapat ditinggali lagi oleh Nenek Catarina. Ia juga membantu Keira, tetangga Fahri yang sangat berbakat dalam memainkan biola. Namun ayahnya meninggal karena serangan teroris sehingga Keira terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah musiknya. Fahri menyelamatkan Keira yang sempat berniat menjual diri dalam sebuah acara lelang. Fahri lah yang memenangkan lelang tersebut dan membayar dengan harga tinggi. Tak sampai di situ, ia kemudian mendatangkan pelatih biola secara diam-diam agar Keira dapat terus mengasah bakat bermusiknya. Adik Keira juga pernah ditolong oleh Fahri. Ketika itu ia ketahuan mencuri di mini market milik Fahri. Bukannya melaporkan ke polisi, Fahri justru mempersilakan adik Keira tersebut untuk mengambil apa saja yang ia inginkan di mini market. Padahal sejak awal sudah diceritakan bahwa Keira dan adiknya sangat benci kepada Fahri. Setiap bertemu Fahri mereka selalu memaki dan menuduhnya teroris. Tak hanya itu, Fahri juga banyak membantu mempekerjakan buruh-buruh illegal. Beberapa diantaranya adalah Hulsi, mantan preman dari Turki (Diperankan Panji Pragiwaksono) dan Sabina, gelandangan yang selalu kucing-kucingan dengan polisi. Mereka ditampung di rumah Fahri sebagai asisten rumah tangga. Pertanyaan pertama, aku nggak habis pikir, seberapa banyak kekayaan Fahri hingga dengan entengnya mengeluarkan uang begitu banyak untuk membantu orang lain? Sementara di film hanya diceritakan ia seorang pengajar di universitas dan pemilik mini market.

Itu baru awal loh ya. Masih banyak kejanggalan yang terjadi. Kejanggalan paling menonjol adalah dialognya. Setting cerita ini ada di Eropa, namun bahasa yang digunakan bahasa campur aduk antara Inggris dan Indonesia. Tadinya kupikir memang Fahri sedang mengajar di kelas bahasa Indonesia tapi ternyata tidak. Tetangga di lingkungan tempat Fahri tinggal juga menggunakan bahasa campur aduk itu. Padahal mereka berasal dari berbagai negara. Okey., mungkin tujuannya agar penonton lebih mudah memahami dialog, tapi menurutku akan lebih real kalo dialognya pakai bahasa inggris semua, atau malah sekalian bahasa Indonesia semua biar nggak rancu. Ada 1 point plus sih, yang harus kuakui tentang dialog ini. Seperti umumnya film yang diangkat dari novel, biasanya dialognya menggunakan dialog buku yang tidak umum dipakai di kehidupan sehari-hari. Namun para tokoh dalam film ini mampu menghidupkan dialog-dialog tersebut sehingga tidak terkesan kaku dan maksa. Nggak kayak ceritanya. Disana sini masih ada adegan yang maksa. Seperti ketika di sebuah cafe Fahri tidak sengaja bertemu dengan anak tiri nenek Catarina. Kita nggak tau gimana latar belakangnya orang tersebut, tiba-tiba ngaku kenal dengan dosen-dosen di Edinburhg dan nantang Fahri untuk debat. Dari sikap emosional dan kasar yang sudah ditunjukan sebelumnya, akan lebih pantas jika ia langsung memukuli Fahri. Bukannya malah tiba-tiba ngajak debat. Hadeehh..

Dan forum debat yang dimaksud juga tidak seperti debat pada umumnya. Fahri hanya menyampaikan beberapa quotes orang yang ia kutip. Padahal diceritakan sebelumnya Fahri begitu giat membaca bertumpuk buku untuk mempersiapkan debat itu. Kalau mau, moment itu adalah kesempatan bagus untuk membahas isu yang sedang happening sekarang secara lebih mendalam. Tentang Palestina, tentang Islam yang dituduh sebagai teroris. Sayang, moment itu hanya terlewat begitu saja.
Ada lagi adegan dimana Kiera akhirnya sukses menjadi pemain biola. Di salah satu acara tv dia mengatakan sangat berterima kasih kepada ‘malaikat’ yang telah mengirimkan guru untuk melatihnya bermain biola. Yang bikin geli, tiba-tiba di situ Kiera mengatakan apabila ‘malaikat’ itu perempuan maka akan dijadikan saudara, bila dia laki-laki, berapapun umurnya akan dia jadikan suami. What? Come on. Ini udah bukan jaman negeri dongeng. Keira sangat cantik, pintar dan berbakat. Kok bisa-bisanya kepikiran hal semacam itu. Banyak cara lain yang bisa dilakukannya untuk berterimakasih. Yang bikin tambah geli Keira akhirnya datang ke rumah Fahri untuk berterimakasih. Di situ dia dia baru tahu bahwa orang yang selama ini dibencinya itulah yang telah menolongnya. Tanpa pikir panjang ia langsung memohon untuk minta dinikahi. Padahal di situ ada Hulya, istri Fahri yang sedang hamil besar.  
Klimaks dari film ini adalah ketika identitas Sabina terkuak. Ternyata ia adalah Aisha, istri Fahri yang selama ini dicari-cari. Ia memilih untuk tetap menyembunyikan identitasnya demi kebahagiaan Fahri. Ternyata saat di Palestina, Aisha tertangkap oleh tentara Israel. Demi menjaga kehormatannya, ia merusak wajah dan alat vitalnya sendiri (Nggak adakah alternative lain, its too sadistic untuk dipertontonkan) Di adegan lain lagi-lagi Aisha melukai dirinya sendiri. Ia sengaja membakar kedua telapak tangannya ketika Fahri akan membantunya mengurus identinitasnya dengan berbekal sidik jari (sadis banget L).

Setelah kejadian di Palestina, Aisha merasa bukan lagi wanita seutuhnya. Karena itulah ia tetap menyembunyikan identitasnya dan membiarkan Fahri menikahi Hulya. Semula aku menduga, bahwa Aisha sudah menjalani operasi plastik sebelumnya sehingga mukanya berubah 100% hingga wajar jika tidak dapat dikenali. (Sampai-sampai pemainnya pun diganti dari yang tadinya Rianti Catwright menjadi Dewi Sandra .Masih inget banget, kayak sinetron bidadari, si Marshanda disiram air keras, lalu perannya digantikan oleh Angel Caramoy). Ternyata dugaanku salah, dalam film ayat-ayat cinta 2 diceritakan bahwa Dewi Sandra memang sejak awal sudah menjadi Aisha. Dari sini aku kembali bertanya-tanya, apakah Fahri dan Hulya begitu rabun sampai nggak bisa mengenali Aisha? Dari bentuk tubuh, gesture, suara harusnya bisa dikenali. Apalagi sejak menikah Aisha memang sudah memakai cadar.

Saat aku sudah lelah dengan semua kejanggalan film ini dan pengen buru-buru kabur dari bioskop muncul 1 kejutan yang wow banget. Ketika di pom bensin tiba-tiba Hulya dan Aisha bertemu dengan salah satu penjahat, musuh Fahri dalam ayat-ayat Cinta 1. Di situ tiba-tiba Aisha malah berteriak menyebut nama penjahat itu. Anehnya si penjahat langsung mengenali Aisha (Sementara Fahri dan Hulya yang dekat dengannya justru tidak bisa mengenalinya). Seperti yang sudah bisa ditebak. Perkelahian pun tak terhindarkan. Hulya yang menjadi korbannya. Dia tertusuk pisau di bagian dada. Bayi di kandungan Hulya terpaksa harus dikeluarkan melalui operasi cesar. Bayinya  selamat, namun nyawa Hulya tidak tertolong. Pada saat bersamaan identitas Aisha akhirnya terungkap.

Sebelum kulanjutkan, ada sedikit adegan yang bikin gatel kalau nggak kuceritain. Ketika di ruang perawatan, sesaat sebelum Hulya meninggal, Aisyah melepas cadarnya, tak berapa lama ada dokter lelaki masuk namun Aisha tidak segera menutup wajahnya lagi. (Ya baiklah, maklumin aja. Mungkin sangking shocknya si Aisha karena Hulya meninggal, jadi dia lupa nutup cadarnya).

Sesuai permintaan Hulya sebelum meninggal, Aisyah pun menjalani operasi pengangkatan wajah. And guess what?? Wajahnya diganti dengan wajah Hulya. Di situ digambarkan bagaimana muka Hulya dilepas kayak topeng trus ditaruh di meja yang berisi ‘semacam’ es batu gitu trus ditempel ke muka Aisha. Lalu... taraaaa...  muka Hulya sudah berpindah di muka Aisha. Mulus tanpa bekas jahitan sama sekali. Is that true? Seperti itukah prosedur operasi face off? Yang jelas adegan ending itu semakin mengukuhkan Ayat-Ayat Cinta sebagai film terabsurd yang pernah kutonton.

Sayang, padahal aspek pendukung film ini udah keren banget. Mulai dari akting para pemainnya, setting lokasinya (termasuk tone warna yang dipilih cukup membuatku terkesan), sinematografi, kostum, musik dan penyanyi. Eh, mungkin kalau dijadikan sinetron malah bagus kali, ya. Unsur keabsurdannya dapet banget. Haha.. Tapi udah deh, cukup sekali ini aja aku nonton film ini.

2 komentar:

  1. Wkwkwkwk aku baca ini jadi pengen ketawa kak, dulu nonton aac 1 jaman sma sih belum baca novel aac 2 juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii.. Aq nyesel nonton, masih bagusan aac 1 lah pkoknya

      Hapus