Minggu, 19 Februari 2012

Mengenang Pak Christoporus AD


          Kemarin sore saya mendapat kabar mengejutkan dari seorang kawan yang mengatakan bahwa salah satu dosen kami di Politeknik Seni Yogyakarta telah meninggal dunia. Beliau adalah Pak Christoporus AD, dosen yang mengajar mata kuliah Video Shotting dan Editing semester 4 dan 5 lalu, yang sekaligus menjadi dosen pembimbing saya pada saat tugas akhir. Beliau menjadi salah satu dosen favorit saya di kelas. Kami mengenalnya sebagai dosen yang murah senyum dan murah hati, apalagi dalam  memberikan nilai. Saya jadi ingat tugas membuat video klip semester 4 lalu. Pekerjaan kelompok saya boleh dibilang hancur, jauh dari konsep yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan saat tiba waktunya presentasi, kami masih berusaha menyelesaikan tugas di kontrakan Kakin. Padahal Pak Chris dan teman-teman telah menunggu, tak ada satupun dari kelompok kami yang datang. Kami pikir Pak Chris akan marah karena itu, ternyata tidak. Beliau tetap meminta kami datang untuk presentasi meski dengan karya seadanya. Dan taukah kalian, beliau masih mau berbaik hati, memberi nilai B, Baik, meskipun karyanya tak sebaik nilainya. 

        Beliau juga dikenal tidak pernah menyusahkan mahasiswanya. Saya merasa beruntung mendapat dosen pembimbing seperti Pak Chris. Saat teman-teman dipusingkan dengan dosen pembimbing yang katanya  rewel minta ampun, saya lebih leluasa. Dibanding teman lain saya tergolong jarang menemui dosen untuk konsultasi. Kalaupun bertemu, tidak banyak yang direvisi. Pokoknya Pak Chris memberi kebebasan sekaligus kepercayaan sepenuhnya pada saya. Sempat sih terpikir kenapa dosen saya ini terkesan santai sekali. Tapi akhirnya saya menemukan jawabannya ketika suatu sore kami berkunjung ke rumahnya. Kami mengobrol santai di teras. Kurang lebih beliau mengatakan, “Saya sudah tahu kemampuan kalian masing-masing, dan saya pikir tanpa saya pun kalian tetap bisa menyelesaikan karya dengan baik, jadi buat apa saya mempersulit kalian dengan memaksakan keinginan saya (maksudnya menyuruh revisi,dll). Itu hanya akan memperlambat kerja kalian.” Teori itu ada benarnya juga, TA saya bisa selesai tepat waktu dan saya mendapat nilai yang sangat memuaskan, mengungguli teman-teman lain yang saya pikir karyanya lebih bagus dibanding saya.

        Saya tidak menyangka sidang tugas akhir, 6 bulan lalu menjadi pertemuan terakhir saya dengan beliau. Selama ini beliau tidak pernah kelihatan sakit apalagi mengidap kanker. Beberapa hari yang lalu saya sempat mendapat firasat melaui mimpi, gigi geraham saya copot. Kata orang dulu menandakan akan kehilangan orang dekat. Terlepas dari benar tidaknya, yang jelas kehilangan, kematian bisa datang sewaktu-waktu. Sudah selayaknya kita mempersiapkan bekal dari sekarang. Selamat jalan pak Chris.. semoga Tuhan memberi tempat yang indah di sana.

(NB: Yang punya fotonya pak Chris di share kesini dunk, kl bisa yang bareng temen sekelas, biar q pasang nanti)

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar