Minggu, 11 Desember 2011

Dongeng buat Bunda

Baju itu ibu sulam benang asa
Jarum dibayar di muka
Hutang dianggap tiada
Disucikannya malam hari dengan air relung hati
Di kedalaman sumur doa bunda tetap terjaga

Biar Ma, baju itu kutulisi cerita
Akan kudongengkan pada anakku
Biar Ma, pabrik tekstil itu nanti aku yang punya
Kau mau berapa? Sejuta?
Kubuatkan baju yang sama
Tapi izinkan
Izinkan kukabarkan pada jalan-jalan
Agar mereka yang beku aturan turut merayakan kemenangan
Selusin tahun terpasung di balik bangku membosankan
saatnya lepas sangkar

Jalanan!
Lihat sebiji angka di jidatku bersinar-sinar
Walau kalau kau jeli akan nampak agak karatan
Cukup itu perlu kau tau, mohon lainnya dirahasiakan
Telah dimerdekakan kebodohan
(atau kemerdekaan yang dibodohkan?)
Kusandang predikat palsu,
aku masih musuh ilmu, buta aksara, moral juga
Seperti bangsa barbar
kita belajar cara menghidupi nafsu yang hampir tewas terkapar

Jalanan
Tempat meniti mimpi
namun ananda lupa
juga tempat menata nisan
Lupakan cita-cita menjadi penguasa berdasar hukum rimba
Sempatkah menolak? Pilihan kedua telah dijatuhkan
Ananda pulang ditutup kafan

Kembali dicuci baju anaknya di muara air mata
Namun tak juga hilang putih abu, biru, merah tua
Baju penuh noda luka-luka bunda

Tetap disimpannya dalam kotak mustika
Layaknya lembaran buku cerita
Berkisah sepanjang malam
sebagai pengantar tidur bunda
hingga akhir hayatnya

Juni 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar