Minggu, 11 Desember 2011

Pada Suatu Hari di Kota Boneka

Perempuan itu tertatih,mendekap bayi merah
Mata lantang menatap kota tujuan
Meski tak sempat sembunyikan pasi wajah
Belum kering darah di antara dua betisnya
menggenangi jalan raya
Sayap-sayap kuyup tak sempat terpungut
malaikat terhenyak, lupa menutup mulut
mereka urung menyematkan doa di ubun-ubun jabang
petaka si bapa lebih dulu menyerang

Masih lekat lebam disekujur tubuh
Juga rahim istri yang remuk oleh murka
Mengapa harus lahir bayi-bayi perempuan
Yang hanya akan pandai bergincu
Sementara langit mulai doyong
Dan tangan yang semula kekar
Terlampau keriput menyangga langit

Dalam genggaman,
tangan mungil bocah ingusan
Di hati terbesit tanya, mau ke mana
Ini kota begitu asing
Terali di segala penjuru mata angin
Mengapa amat kelam
Rumah jembatan dan gedung berwarna ungu
Mengingatkannya pada lapar yang menggerus lambung sejak semalam
Orang lalulalang dengan punggung ditumbuhi gerigi mesin
seperti boneka
yang selama ini ia idamkan

Matahari memar
Di depan pertokoan perempuan berhenti berjalan
Tangannya tabah mengetuk satu pintu
Engkau musti belajar mengeja degup jantung
Aku menandai luka, yang akan menuntun bila kau rindu pulang
sebab tau bayi merah akan hilang,
ditelan riuh bibir merancau mimpi
maka ditancapkannya rusuk ke dalam hati
menanam ari-ari

tak lama
seorang keluar
melempar setumpuk uang

Bocah ingusan terbata
Tiba-tiba adik perempuannya
terpajang di etalase
seperti boneka
dengan tunas-tunas angka mengerikan tumbuh cepat
merayap dari balik punggung
dengan mata menyala

Perempuan segera membawa sulung pergi. pulang kepada nasib. Namun langkahnya kian tertatih. Baut mulai rontok dari kakinya. Jari-jari menjadi sebentuk kumparan kawat. Dadanya menjelma lempengan besi. dengan kabel berjuntai. mengeluarkan asap.

Ada pekik memecah kota
Kelopak bunga berguguran dari ceruk mata

April 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar