Senin, 19 Desember 2011

Wanita dengan Buah Kweni di Punggungnya


Sekali lagi matahari harus bertekuk lutut,
menyerah kalah,
seperti pagipagi sebelumnya

Dunia masih lelap dalam buaian
mimpi yang tak juga kesampaian
Matahari terpejam
Udara terpejam
Hati terpejam
Bulan hampir terpejam

Akuilah wahai surya
Wanita itu lebih perkasa
dipaksanya pagi membelalakkan mata
Mencakar lereng bukit
menyeruak, menyisiri semak tebu
menelusuri akar jati hingga ke bawah
kakikaki telanjang
mencium mesra tanah berbatu
Burung kecil adalah orkes sepanjang jalan
Senandung kehidupan dan perjuangan
Dicumbu pagi buta,
merekalah penguasa saat kau masih terlena

Dan ketika kau terlambat menyadari geliat kehidupan
Bergegas Menggeregah Berbenah
membentangkan selendang warna emas dari balik bukit
Kau cipratcipratkan pada daun, embun
pada bungabunga tebu
pada tenggok di punggungnya yang harum buah kweni
Sesungguhnya mereka telah siap mengajakmu berlari
Dan akhirnya akuilah sekali lagi
wahai matahari
wanita itu jauh lebih perkasa memeluk pagi

(Yogya, 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar