Minggu, 11 Desember 2011

Awas, Cybercrime Mengintai

Beberapa tahun terakhir jejaring sosial seperti facebook dan twitter menjadi sangat populer dan fenomenal. Bahkan di Indonesia sendiri penggunanya mencapai lebih dari 25 juta orang. Dibanding negara-negara lain di dunia, jumlah ini termasuk yang terbesar. Hal ini semakin dipersubur oleh tarif operator yang semakin terjangkau dan bermunculannya HP-HP murah dengan fitur lengkap sehingga memungkinkan setiap orang dapat mengakses internet dengan mudah.
Komunikasi yang serba praktis adalah faktor kenapa facebook dan twitter begitu melekat di hati masyarakat. Masyarakat dapat mencari teman lama maupun baru, saling bertukar pikiran dan informasi. Bahkan dapat pula sebagai ajang promosi usaha.
Di kalangan remaja, jejaring sosial menjadi trend tersendiri. Salah satunya adalah untuk menunjukkan exsistensi. Belum gaul jika belum memiliki akun facebook. Karena itulah mereka berlomba memasang foto semenarik mungkin, mengumbar identitas, mencari teman sebanyak-banyaknya dan rajin menulis status. Semakin banyak orang tau aktivitas kemudian mengomentarinya, semakin banggalah mereka. Tanpa mereka sadari, di balik itu mungkin ada penjahat yang siap memanfaatkan keadaan.
Belakangan “Cybercrime” atau tindak kriminal yang dilakukan melalui internet semakin marak. Sejak awal tahun 2010 tercatat beberapa kali terjadi kasus penculikan yang bermula lewat perkenalan di facebook. Pelaku bisa dengan mudah menyamarkan identitas. Modusnya adalah dengan berkenalan melalui facebook, chatting, dilanjutkan saling bertukar nomor HP. Sampai akhirnya kopi darat (bertemu secara langsung). Tindak penculikan semacam itu mungkin tak berhenti sampai di situ saja. Bisa jadi terkait pula dengan jaringan human trafficing (perdagangan manusia) yang akibatnya akan lebih buruk.
Situs jejaring sosial memang ibarat dua sisi mata uang. Tapi bukan berarti harus dihindari. Bagaimanapun banyak nilai positif yang dapat kita serap darinya. Kita hanya dituntut untuk lebih selektif dan bijak menyikapi. Sadari betul dampaknya, baik positif maupun negatif. Jangan mudah percaya dengan data yang terpampang profil di facebook. Begitupun ketika menerima ajakan pertemanan. Pastikan dulu siapa, bagaimana latar belakangnya dan apa tujuannya.
Disamping itu, peran orangtua tak kalah penting. Sebagai filter utama, mau tak mau orang tua harus bisa mengikuti perkembangan tehknologi agar dapat memantau kegiatan anak. Jalin komunikasi dengan baik dan beri pengertian bahwa internet haruslah digunakan secara seimbang. Bagaimanapun kehidupan sosial yang nyata tetap tidak dapat tergantikan oleh situs-situs jejaring sosial secanggih apapun di dunia maya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar