Minggu, 11 Desember 2011

Lucy

Rembulan berseri cerah. Tak ada awan menghalangi cahayanya untuk menembus jendela kamarku. Beberapa detik lagi, Juni akan tiba membawa musim kemaraunya. Sebelum itu, aku berharap ada angin datang, menyapu keringatku. Sayang,harapanku sia-sia. Sebenarnya bukan hanya udara panas yang membuatku tidak dapat terpejam. Pikiranku masih disibukkan oleh kejadian tadi siang, saat seorang perempuan datang ke rumah. Aku melihat ibu memeluknya dengan erat. Pelukan yang segera membuatku iri. Aku begitu mendambakan pelukan itu sejak kecil, namun tak pernah kudapatkan dari ibu hingga sekarang.
“Ini Lucy, kakakmu,” kata ibu saat mengenalkannya padaku.
Kakak? Ternyata aku punya kakak?!
Lucy bercerita, saat umurnya lima belas dan aku empat tahun, ia pergi dari rumah karena tak tahan mendengar pertengkaran kedua orangtua kami yang terus menerus. Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu ia mendengar kabar bahwa kedua orangtua kami resmi bercerai. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
Aku berusaha menginggat kenangan bersama Lucy saat masih kecil. Tak satupun terlintas di benakku. Tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Belakangan, aku sering melihatnya saat perjalanan ke sekolah. Aku juga pernah berpapasan dengannya di bus, saat akan pergi ke gereja. Ia seperti mengawasiku, membuat perasaanku gelisah.
*****
Meski saudara kandung, Lucy seperti orang asing. Sifat kami sangat bertolak belakang. Ia temprament dan keras kepala, sementara aku pendiam dan sangat penurut. Kami jarang bicara, mungkin ia tahu aku membencinya, begitupun sebaliknya. Sebenarnya aku iri. Dia bisa melakukan apapun yang ia mau. Sementara aku, memang dilahirkan sebagai pengecut. Aku tak berani ke luar rumah, kecuali ibu yang memerintah. Itu sebabnya aku tak punya banyak teman. Ibu melarangku bergaul karena menurutnya di luar sana banyak sekali orang jahat. Bergaul hanya akan memberi dampak buruk padaku.
Harusnya Lucy merasa beruntung, ibu lebih menyayanginya. Padahal ia tak pernah membersihkan rumah, memasak ataupun mencuci seperti yang kulakukan setiap hari. Harusnya ia bisa lebih menyayangi ibu dibanding aku. Tapi yang kulihat justru sebaliknya. Ia sering memulai pertengkaran dengan ibu, mempermasalahkan hal-hal sepele.
Setelah pertengkaran usai, ibu akan duduk menyendiri di ruang tengah dan menangis. Saat seperti itu aku ingin sekali menemaninya. Sayang, aku tak pernah punya cukup keberanian. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali mengintip dari balik tirai kamar sambil membayangkan aku bisa memeluk dan membiarkan airmatanya tumpah di bahuku.
*****
Sepulang sekolah, aku terkejut mendapati keadaan rumah yang berantakan. Kupikir ada perampok masuk, namun dugaanku salah. Tak ada satu pun barang berharga yang hilang kecuali beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding dan meja. Aku juga melihat serpihan kaca bertebaran di lantai. Yang paling mengejutkan, banyak foto ibu terserak. Semuanya dalam kondisi robek. Apakah Lucy dan ibu bertengkar lagi?
Di tengah kebingunganku, ibu datang dari pintu depan. Ia nampak sama terkejutnya denganku. Ia langsung memandangku tajam, seolah-olah menuduhku. Rasa menggigil tiba-tiba menjalari sekujur tubuhku.
“Bukan aku yang melakukannya,Bu,”
“Lalu siapa?! Cuma ada kamu!”
Aku terdiam. Ibu menghadiahiku sebuah pukulan karena aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Ia mengancam akan mengusirku dari rumah kalau aku tidak segera membereskan semuanya.
Aku begitu kesal, usai menjalani hukuman dari ibu, aku bergegas menuju kamar dan mendapati Lucy tengah duduk santai di balkon. “Aku tahu ini semua perbuatanmu!” Kataku sambil menghentakkan kursi rotan, tempat ia duduk. Secangkir teh di tangannya hampir saja tumpah. “Buat apa kamu kembali kalau cuma untuk merusak kebahagiaan kami?!”
“Kebahagiaan? Ini neraka!” Lucy beranjak dari tempat duduknya. Ia menghela nafas panjang. ”Baiklah, aku benci mengatakannya, tapi aku harus membawamu pergi dari sini!”
“Untuk apa? Aku bahagia!”
“Jangan bohong! Aku tahu semuanya!” Lucy menarik paksa tanganku, masuk ke dalam kamar. Lihat, ibu pernah membenturkan kepalamu di sini!” Tangannya menunjuk ke arah bercak darah mengering yang ada di dinding. Kemudian ia menunjuk ke arah meja, tak jauh dari tempat kami berdiri.“Ia juga pernah mengikat tanganmu di sana! Iya kan?! Dan lihat tongkat ini, ia pernah memukulmu dengan ini kan?!”
“Iii...ii..itu semua karena aku nakal. Ibu selalu mengatakannya padaku.”
“Itu karena ia marah pada ayah! Tapi ia tidak bisa memukul ayah, jadi ia memukulmu!”
Aku terdiam. Tiba-tiba bayangan masa kecilku berkelebatan dalam benak. Ada amarah yang tak bisa kumengerti.
“Sudahlah, jangan bermimpi ibu bisa menyayangimu lagi seperti dulu. Kekecewaannya pada ayah sudah membuatnya banyak berubah.”
“Tapi ia tetap ibuku. Aku tau ia sangat kesepian.”
“Dasar bodoh! Untuk apa memperdulikan perasaannya? Sebaiknya kamu segera berkemas. Kita harus pergi sekarang, sebelum semuanya terlambat!” Dengan tergesa Lucy menguras isi lemari pakaianku, memindahkannya ke dalam koper besar.
“Tidak mau! Aku sudah kehilangan ayah. Aku tidak mau kehilangan ibu!” Kemarahanku pada Lucy memuncak. Aku semakin membencinya. Ia terlalu ikut campur. Selama ini aku merasa kehidupanku baik-baik saja. Justru semenjak ia datang, segalanya menjadi kacau.
“Kalaupun ada yang harus pergi, dia adalah kamu!” Kutarik tangan Lucy dengan kasar menuju balkon. Ia meronta, tapi tanganku lebih sigap menggenggamnya. Diam-diam aku telah merencanakan ini. Sekarang tak ada yang bisa menghalangiku. Tubuhku seperti dirasuki setan jahat. Kudorong Lucy dari atas balkon lantai dua kamarku.
*****
“Lucy!!!” pekikku. Aku merasa seperti baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang dan melelahkan.
“Berhentilah menyebut nama itu! Siapa Lucy?! Semalaman kamu terus mengigaukannya.” Wajah ibu nampak panik. Entah sejak kapan ia ada dihadapanku.
Aku berusaha turun dari tempat tidur. “Lucy, Bu! Tadi aku mendorongnya dari balkon dan....”
“Brukkkk..!” Aku terjatuh ke lantai. Tiang penyangga infus turut jatuh, nyaris mengenai kepalaku. Aku mulai tersadar. Sebuah selang infus tertanam di tanganku, dan kedua kakiku terbungkus perban. Hey! Di mana kaki kiriku?! Di mana kakiku?!
“Kemarin kamu jatuh dari balkon, Nak,” kata ibu yang mulai berderai airmata. Bersama seorang perawat, ia memapahku kembali ke tempat tidur.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Antara percaya dan tidak, memandangi kakiku yang telah buntung. Lalu Lucy?! Di mana Lucy?!
Hening. Tak seorang pun menjawabku. Aku tertegun memandangi cermin yang terpasang di dinding. Aku melihat wajah Lucy di sana, tersenyum. Kukedipkan mataku. Wajah Lucy pun memudar, berganti dengan wajahku sendiri, ketakutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar